Quotes

HUKUM TAKLÎFÎ

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

*Baca juga tentang KHAS . Klik link di bawah 👇

https://repenttoallah.wordpress.com/2015/03/16/ushul-fiqih-khas/

*Baca juga tentang KHAFÎ, MUSYKIL, MUJMAL DAN MUTASYÂBIH Klik link di bawah 👇

https://repenttoallah.wordpress.com/2015/03/26/khafi-musykil-mujmal-dan-mutasyabih/

 

Definisi Hukum

Dalam kitab Ushûl al-Fiqh al-Islâmî karangan Wahbah Zuhaili, beliau menyebutkan :

الحكم هو خطاب الله تعالى المتعلق بأفعال المكلفين بالإقتضاء أو التخيير أو الوضع

Artinya: Hukum adalah khithâb (kalam) Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukalaf baik berupa iqtidhâ` (tuntutan), takhyîr (pilihan) atau wadh’. [1] Yang dimaksud dengan khithâb ialah kalam-Nya yang secara langsung berupa Al-Qur’an. Atau melalui perantara yaitu berupa sunnah, ijmak atau dalil syar’i lainnya yang telah Allah tetapkan.

Kemudian yang dimaksud dengan iqtidhâ` adalah permintaan atau tuntutan. Baik tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan atau tuntutan untuk meninggalkannya. Apabila tuntutan untuk melakukan bersifat jâzim maka disebut îjâb. Dan apabila tuntutannya bersifat ghairu jâzim disebut nadb. Begitu juga, apabila tuntutan untuk meninggalkan bersifat jâzim  maka disebut tahrîm dan apabila bersifat ghairu jâzim disebut karâhah. Selanjutnya yang dimaksud dengan takhyîr bahwasanya syâri’ membolehkan mukalaf untuk melakukan atau tidak melakukannya. Misalnya makan di waktu tertentu, tidur di waktu tertentu atau aktivitas-aktivitas lainnya. [2] Dan yang dimaksud dengan wadh’ yaitu menjadikan sesuatu sebagai sabab untuk sesuatu yang lain atau syarth untuk sesuatu yang lain atau mâni’ untuk sesuatu yang lain. Penjelasan sebagai berikut, bahwasanya Allah mengaitkan antara dua perkara yang berhubungan dengan perbuatan mukalaf. Seperti, Allah mengaitkan antara warisan dengan kematian seseorang. Jadi kematian seseorang merupakan sabab untuk mendapatkan warisan. Begitu juga wudhu merupakan syarth untuk melakukan shalat. [3]

(more…)

TIKET KE-3 !!!

712843022681386985_213085650

Hidup di dunia ini terbagi menjadi tiga bagian. Sama halnya dengan naik kereta, kita mempunyai tempat pemberhentian masing2 tempat. Jadi tiket kita terbagi menjadi tiga tempat. Ketika mulai perjalanan, kita diberi satu tiket. Ketika kita masih di rahim ibu kita tanpa adanya kesadaran sama sekali, ini salah satu journey (perjalanan) dalam hidup kita. Dan ketika kita sudah terlahir di muka bumi ini dengan secercah cahaya, satu tiket kita sudah sobek & terbuang !! Kita ga pernah mendapatkan tiket kita kembali, No refunds !! That ticket is gone! That part of the journey is over ! Kita ga mungkin kembali lagi ke rahim ibu kita. Ini merupakan perjalanan one-way. So kita memulai kehidupan berawal dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, de es te, sampe akhirnya kita bertemu dgn kematian. Death and the grave ! Ketika kita meninggalkan dunia, itu merupakan momen dimana tiket yang lain juga sudah terbuang. Kita ga bisa kembali ke dunia ini. (more…)

KHAFÎ, MUSYKIL, MUJMAL dan MUTASYÂBIH

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

 

*Baca juga tentang KHAS . Klik link di bawah 👇

https://repenttoallah.wordpress.com/2015/03/16/ushul-fiqih-khas/

*Baca juga tentang Hukum Taklifi. Klik link di bawah 👇

https://repenttoallah.wordpress.com/2017/02/18/hukum-taklifi/

 

Lafal dari segi ketidakjelasan pada dalalahnya terbagi menjadi empat bagian yaitu : khafî, musykil, mujmal dan mutasyâbih

A. Khafî

  1. Definisi

Wahbah Zuhaili dalam bukunya Ushûl al-Fiqh al-Islamî memaparkan bahwa khafî (الخفي) adalah sesuatu yang maksudnya tersembunyi yang disebabkan oleh faktor lain bukan dari segi shîghah dan tidak dapatdiketahui kecuali dengan sebuah tuntutan atau permintaan.[1] Sedangkan dalam kitab Ushûl al-Fiqh al-Ladzi La Yasa’u al-Faqîh Jahluh didefinisikan bahwa  khafî ialah nama untuk sesuatu yang maknanya serupa dan maksudnya tersembunyi oleh suatu faktor di dalamnya terdapat shîghah yang tidak bisa diperoleh maknanya kecuali dengan tuntutan atau permintaan.[2] Lafal khafî sebenarnya dari segi lafalnya menunjukkan arti yang jelas namun dalam penerapan atau aplikasi artinya terdapat kesamaran.

  1. Contoh

Contoh pada lafal pencuri  (السَّارِقُ)  pada surat al-Mâidah ayat 38 :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Pencuri yaitu orang yang mengambilsuatu harta orang lain secara sembunyi. Tetapi dari segi dalalahnya terhadap orang yang dianggap seorang pencuri itu terdapat sesuatu hal yang tersembunyi. Dengan kata lain, lafal “pencuri” itu mempunyai satuan arti (afrad) yang banyak, yaitu pencopet, perampok, pencuri barang kuburan. Misalnya seorang pencopet yaitu orang yang mengambil harta milik orang lain dengan tangan terbuka dengan skill yang mumpuni dan terampil. Dari segi sifat pencopet dan perampok memiliki sebuah perbedaan karena pencopet memiliki kelebihan sifat daripada pencuri yaitu keberanian serta skill yang mumpuni. Contoh lain yaitu nabâsy (pencuri kain kafan atau barang kuburan). Nabâsy disini termasuk lafal khafî yang memiliki kekurangan dari segi sifat. Karena barang yang dicuri berupa kain kafan yang notabenenya tidak diminati banyak orang. (more…)

Berbuat kesalahan bukan merupakan kesalahan. Introspeksilah !!

10703830_10202794289526649_726238698261684846_n

“Jika kamu ingin menghitung kesalahan orang lain, hitunglah kesalahanmu sendiri.”

Tidak ada manusia yang tidak mempunyai kesalahan. Karena pada hakikatnya manusia kadang lupa dan membuat kesalahan. Dan kadang lisan kita ‘tergelitik’ untuk mencari-cari kesalahan orang lain sehingga mengakibatkan iri, dengki dan penyakit hati lainnya.

Seorang ahli hikmah berkata, aku tidak pernah menyesali (more…)