Makalah

KHAFÎ, MUSYKIL, MUJMAL dan MUTASYÂBIH

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

 

*Baca juga tentang KHAS . Klik link di bawah 👇

https://repenttoallah.wordpress.com/2015/03/16/ushul-fiqih-khas/

*Baca juga tentang Hukum Taklifi. Klik link di bawah 👇

https://repenttoallah.wordpress.com/2017/02/18/hukum-taklifi/

 

Lafal dari segi ketidakjelasan pada dalalahnya terbagi menjadi empat bagian yaitu : khafî, musykil, mujmal dan mutasyâbih

A. Khafî

  1. Definisi

Wahbah Zuhaili dalam bukunya Ushûl al-Fiqh al-Islamî memaparkan bahwa khafî (الخفي) adalah sesuatu yang maksudnya tersembunyi yang disebabkan oleh faktor lain bukan dari segi shîghah dan tidak dapatdiketahui kecuali dengan sebuah tuntutan atau permintaan.[1] Sedangkan dalam kitab Ushûl al-Fiqh al-Ladzi La Yasa’u al-Faqîh Jahluh didefinisikan bahwa  khafî ialah nama untuk sesuatu yang maknanya serupa dan maksudnya tersembunyi oleh suatu faktor di dalamnya terdapat shîghah yang tidak bisa diperoleh maknanya kecuali dengan tuntutan atau permintaan.[2] Lafal khafî sebenarnya dari segi lafalnya menunjukkan arti yang jelas namun dalam penerapan atau aplikasi artinya terdapat kesamaran.

  1. Contoh

Contoh pada lafal pencuri  (السَّارِقُ)  pada surat al-Mâidah ayat 38 :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Pencuri yaitu orang yang mengambilsuatu harta orang lain secara sembunyi. Tetapi dari segi dalalahnya terhadap orang yang dianggap seorang pencuri itu terdapat sesuatu hal yang tersembunyi. Dengan kata lain, lafal “pencuri” itu mempunyai satuan arti (afrad) yang banyak, yaitu pencopet, perampok, pencuri barang kuburan. Misalnya seorang pencopet yaitu orang yang mengambil harta milik orang lain dengan tangan terbuka dengan skill yang mumpuni dan terampil. Dari segi sifat pencopet dan perampok memiliki sebuah perbedaan karena pencopet memiliki kelebihan sifat daripada pencuri yaitu keberanian serta skill yang mumpuni. Contoh lain yaitu nabâsy (pencuri kain kafan atau barang kuburan). Nabâsy disini termasuk lafal khafî yang memiliki kekurangan dari segi sifat. Karena barang yang dicuri berupa kain kafan yang notabenenya tidak diminati banyak orang. (more…)

Makalah Ushul Fiqih : KHAS

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

 

*Baca juga tentang KHAFÎ, MUSYKIL, MUJMAL DAN MUTASYÂBIH. Klik link di bawah 👇

https://repenttoallah.wordpress.com/2015/03/26/khafi-musykil-mujmal-dan-mutasyabih/

*Baca juga tentang Hukum Taklifi. Klik link di bawah 👇

https://repenttoallah.wordpress.com/2017/02/18/hukum-taklifi/

 

PENDAHULUAN

Ushul fikih merupakan ilmu yang sangat urgen dalam istinbâth hukum islam. Ada beberapa metode dalam istinbâth hukum dan kaidah-kaidahnya untuk memahami sumber pokok dasar islam yaitu al-Qur’an dan hadits. Salah satu metode istinbâth tersebut dapat ditilik dari segi bahasanya. Menurut ushulliyûn dari segi makna terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama tentang peletakan suatu lafal pada suatu makna. Bagian kedua tentang penggunaan lafal pada suatu makna. Bagian ketiga tentang dalâlah lafal terhadap suatu makna. Bagian keempat tentang tata cara dalâlah lafal pada suatu makna. Pada kesempatan kali ini pemakalah akanmenguraikan bab pada bagian yang pertama yaitu tentang peletakan suatu lafal pada suatu makna. Berdasarkan peletakan suatu lafal pada suatu makna terbagi menjadi dua yaitu ‘âm dan khas.

Oleh karena itu melalui makalah yang singkat ini akan dipaparkan pembahasan khâsh dalam istinbâth hukum Islam sebagai salah satu aspek ajaran Islam yang akan menjelaskan makna-makna lafal setiap hukum dalam suatu nash

KHÂSH

A. Definisi Khâsh

Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh menjelaskan bahwa khâsh (الخاص) secara etimologi bermakna munfarid (المنفرد) artinya meyendiri, terpisah. Dan secara terminologi berarti lafal yang dari segi bahasanya menunjukkan individu tertentu secara menyendiri.[1] Sebagian ulama mendefinisikan khâsh (الخاص) dengan beberapa pengertian. Wahbah Zuhaili dalam bukunya Ushûl al-Fiqh al-Islami memaparkan bahawasanya khâsh adalah lafal yang ditetapkan untuk menunjukkan makna perseorangan atau individu secara menyendiri.[2] Dalam hal ini khâsh mempunyai beberapa makna. Khâsh menunjukkan individu tertentu misalnya nama-nama orang, seperti Zaid, Burhan, dan Muhammad. Atau menunjukkan satu macam, seperti laki-laki, perempuan dan kerbau. Dan bisa juga menunjukkan jenis, seperti manusia. Dan khâsh juga berarti sesuatu yang menunjukkan satuan yang terbatas, seperti sembilan, seratus dan seribu. Definisi khâsh yang dijelaskan oleh Wahbah Zuhaili ini serupa dengan apa yang dikemukakan oleh Abdul Wahhab Khallaf dalam kitab ‘Ilmu Ushûl al-Fiqh.[3] Dalam kitab Qurrat al-‘Aini disebutkan bahwa khâsh adalah sesuatu yang tidak mencakup dua hal atau lebih tanpa ada batas, tetapi sesuatu yang mencakup satu hal secara terbatas.[4] (more…)