Islam

Hukum Mengucapkan Doa Setelah Berwudhu

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

 

Definisi Ad-Du’a

Dalam kitab at-Takmilah wa adz-Dzail wa ash-Shilatu bahwa ad-Du’a  bermakna keimanan, ibadah dan meminta pertolongan.[1] Sedangkan dalam kitab Tâj al-‘Arûs artinya berharap kepada Allah.[2] Menurut Abu Ishaq,  ad-Du’a mengandung tiga maksud.[3]

Maksud pertama

Mengandung tauhid kepada Allah dan sebagai pujian untuk Allah. Misalnya saat kita mengucapkan:

يا الله لا إله إلا أنت, ربنا لك الحمد

Artinya: “Ya Allah tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Ya Tuhan kami, segala puji bagi-Mu.”

Apabila kita mengatakan kalimat ini, maka ini disebut dengan doa.

Maksud kedua

Memohon ampunan dan rahmat Allah. Seperti saat kita mengucapkan:

اللهم اغفر لنا

Artinya: “Ya Allah, ampunilah kami.”

Maksud ketiga

Meminta sebagian dari harta dunia. Ketika kita memohon:

اللهم ارزقنا مالا و ولدا

Artinya: “Ya Allah, berikanlah kami rezeki berupa harta dan anak.”

Maka tiga macam ini semuanya disebut dengan doa, karena saat meminta, kita mendahului ucapan dengan menyebut kata Ya Allah, Ya Rabb, Ya Rahman.

 

Lafal Doa Setelah Berwudhu

Terdapat beberapa riwayat hadis tentang lafal doa setelah wudhu di kitab-kitab muktamad jumhur ulama mazhab.


أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ [4]

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ [5]

[6]  أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَوَّابِينَ واجْعَلْني مِنَ المُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ

 

Hukum Mengucapkan Doa Setelah Berwudhu

  1. Mazhab Hanafi

Dalam kitab Badâi’u ash-Shanâi’, ‘Alaudin al-Kasani memasukkan pengucapan doa setelah berwudhu dalam adab-adab berwudhu. Karena ada perbedaan antara adab dan sunnah. Sunnah merupakan perilaku yang dibiasakan nabi dan tidak pernah meninggalkannya kecuali hanya satu atau dua kali. Sedangkan adab adalah perilaku yang tidak selalu nabi kerjakan, kadang melakukan kadang meninggalkan.[7]

  1. Mazhab Syafi’i

Dalam kitab al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah, Abdullah Bafadhal mengatakan mengucapkan doa setelah berwudhu hukumnya sunnah. Kemudian Syeikh Sa’id bin Muhammad Ba’ali Ba’isyn menambahkan beberapa anjuran saat berdoa, diantaranya menghadap kiblat serta mengangkat kedua tangan dan pandangannya ke langit. Bahkan orang buta pun juga dianjurkan walaupun tidak dapat melihat. Setelah itu mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kemudian membaca surat al-Qadr tiga kali dan ayat kursi tanpa mengangkat tangan dan menengadah ke langit. Jika ia mendengar azan, terlebih dahulu membaca doa wudhu dan setelah berdoa baru menjawab azan.[8]

  1. Mazhab Hanbali

Dalam kitab al-Kâfî Fî Fiqhi al-Imâm Ahmâd bin Hanbal disebutkan bahwa membaca doa setelah berwudhu itu mustahab.[9] Dan dianjurkan pula untuk menengadahkan wajah ke langit.[10]

Sedangkan di Mazhab Maliki tidak ditemukan redaksi tentang doa setelah wudhu baik di bab adab ataupun sunnah wudhu.

Dalil Setiap Mazhab

  1. Mazhab Hanafi

و يقول: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله[11]

  1. Mazhab Syafi’i

و يقول بعده: أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَوَّابِينَ ، واجْعَلْني مِنَ المُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ[12] 

  1. Mazhab Hanbali

و يستحب أن يقول بعد فراغه من الوضوء: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ [13]

 

Hikmah Di Balik Doa Wudhu[14]

Berwudhu merupakan thahârah hissiyyah yang berarti bersuci dengan perantara air. Maka tahap selanjutnya adalah thahârah ma’nawiyyah yaitu dengan doa wudhu (syahadat). Karena syahadat merupakan bentuk thahârah (besuci) dari bid’ah dan syirik.

Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah termasuk thahârah (besuci) dari syirik. Sedangkan bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam adalah

(more…)

Advertisements

Hitam Putih

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

Jajaran fanush menghiasi atap-atap Nasr City, salah satu kota di provinsi Kairo, Mesir. Fanush merupakan sebuah lentera sebagai simbol rasa syukur atas datangnya bulan Ramadan. Ukuran lentera bervariasi, ada yang berukuran kecil, sedang dan besar. Bahkan ada yang setinggi orang dewasa. Untuk ukuran besar, hanya diletakkan di lantai saja. Lentera ini biasanya terbuat dari bahan logam dan kaca. Lapisan luar kaca ada yang dihias dengan kaligrafi ayat Alquran. Pancaran cahaya lentera ini bersumber dari lampu yang berwana-warna. Tatkala lampu menyala, lapisan kaca akan memantulkan cahaya yang indah sekali. Selain untuk penerangan, fanush juga digunakan sebagai dekorasi yang menambah suasana ramadan lebih istimewa. Lampu hias ini  bisa dijumpai di beberapa tempat misalnya di depan rumah, toko-toko dan pinggir jalan.

Bulan Ramadan identik dengan Alquran. Di Mesir, lantunan suara Alquran dapat ditemui di berbagai lokasi. Di pasar, bengkel, toko-toko, mall dan lainnya. Jadi tak heran, terdapat para penjual di pasar mendaras Alquran sembari menunggu pelanggannya. Dinu, seorang pemuda dari pelosok tanah Jawa yang baru seminggu memijakkan kakinya di Mesir. Pasalnya, ia akan merasakan aura ramadan untuk pertama kalinya di Negeri Seribu Menara.

“Din, yuk salat tarawih?”

“Yuk Ban, aku mau nyari masjid yang bacaan Alqurannya satu juz, kira-kira di mana ya?” sembari membenarkan songkok hitam favoritnya di depan cermin.

“Oh banyak, di Mesir mah kita bisa menjumpai banyak masjid dengan bacaan Alquran sejuz semalam selama bulan Ramadan. Deket sini ada Masjid Muttaqin. Sepuluh menit kalau jalan kaki.”

Bana melempar senyum. Ia merupakan kawan Dinu semasa di pondok yang sudah mendahuluinya belajar di Mesir semenjak dua tahun silam. Karena setelah kelulusan, Dinu memutuskan untuk mengabdi selama dua tahun di pondoknya.

Akhirnya, mereka berdua pun bergegas

(more…)

Derita Si Pembawa Berhala

Sumber : Republika

Selama masa kekosongan wahyu futhurusai meninggalnya Nabi Isa AS dan sebelum Allah SWT mengutus Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul, masyarakat Arab Jahiliah di kawasan Hijaz dan sekitarnya masih mempertahankan agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim AS. Warga yang tinggal di sekitar Ka’bah tidak terpengaruh keyakinan-keyakinan asing, baik dinamisme ataupun anisme.

Namun, pemandangan itu berubah ketika Amar bin Luhayyi al-Khaza’i memperkenalkan berhala kepada warga Hijaz dan mengajak segenap masyarakat di kawasan itu agar menyembah patung-patung tak bernyawa tersebut. “Ia adalah sosok yang pertama kali mengubah agama Ibrahim,” sabda Rasul seperti riwayat Ibnu Abbas. sekilas info

Amar berasal dari suku Khaza’ah dan merupakan pembesar di wilayah Hijaz ketika itu. Kelompok ini sempat berkuasa

(more…)

Bangsa Arab


SIROH NABAWIYAH

*ARROHIIQUL MAKHTUUM*

Pada hakikatnya, istilah Siroh Nabawiyah merupakan ungkapan tentang yang dibawa Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam kepada masyarakat manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, dari penyembahan terhadap hamba kepada penyembahan terhadap Alloh. Jadi tidak mungkin bisa menghadirkan gambaranya secara pas dan mengena kecuali setelah membandingkan hal-hal dibalik risalah dan pengaruhnya.

🌴 POSISI BANGSA ARAB

Menurut bahasa, arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya.

Jazirah arab luasnya kurang lebih satu juta mil kali satu juta tiga ratus ribu mil

Disebelah barat dibatasi laut merah dan gurun sinai

Disebelah timur dibatasi teluk arab dan sebagian besar negara Iraq bagian selatan.

Disebelah selatan dibatasi laut arab yang bersambung dengan lautan india

Disebelah utara dibatasi negeri Syam dan sebagian kecil dari negara Iraq

Jazirah arab memiliki peran yang sangat (more…)

Serial Kisah Ulama

Insya Allah dalam beberapa waktu mendatang, saya akan mengupas kehidupan para ulama dalam kegigihan dan kesabaran mereka dalam menuntut ilmu. Seperti apakah mereka melancong ke suatu negara hanya untuk mencari secercah ilmu, bagaimanakah mental para ulama dalam menjaga ilmu yang notabenenya merupakan warisan para nabi,  melalui kitab : Shafahat min Shabri al-Ulama ‘ala Syadaid al-Ilm wa at-Tahsil karya fenomenal Abdul Fattah Abu Ghuddah.

*Shafahat min Shabri al-Ulama ‘ala Syadaid al-Ilm wa at-Tahsil

Dan saya juga akan mengungkap kehidupan mereka dalam menghargai waktu. Seperti apakah mereka membagi waktu untuk ibadah, belajar dan istirahat. Kita juga akan mengetahui (more…)

النجاح

النجاح لن ينال إلا بتعب شديد و جهد عميق. الحصول على العلم يكون هدفا حقيقيا و إنما الشهادة ألا و هي مجرد الهدية. اهتموا و اعتنوا بهذا الكلام يا إخوة

Kesuksesan.

Kesuksesan tidak akan bisa tercapai kecuali dengan lelah yang begitu mendalam  serta kesungguhan yang sangat kuat. Mendapatkan suatu ilmu menjadi prioritas & goal utama kita. Sedangkan ijazah hanya sebatas bonus atas apa yang telah kita kerahkan dalam menuntut ilmu. Ingat dan perhatikan ucapan ini kawan-kawan.

HUKUM TAKLÎFÎ

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

*Baca juga makalah lainnya :

  1. Makalah Khas
  2. Makalah Khafi, Mujmal, Musykil, Mutasyabih

 

Definisi Hukum

Dalam kitab Ushûl al-Fiqh al-Islâmî karangan Wahbah Zuhaili, beliau menyebutkan :

الحكم هو خطاب الله تعالى المتعلق بأفعال المكلفين بالإقتضاء أو التخيير أو الوضع

Artinya: Hukum adalah khithâb (kalam) Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukalaf baik berupa iqtidhâ` (tuntutan), takhyîr (pilihan) atau wadh’. [1] Yang dimaksud dengan khithâb ialah kalam-Nya yang secara langsung berupa Al-Qur’an. Atau melalui perantara yaitu berupa sunnah, ijmak atau dalil syar’i lainnya yang telah Allah tetapkan.

Kemudian yang dimaksud dengan iqtidhâ` adalah permintaan atau tuntutan. Baik tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan atau tuntutan untuk meninggalkannya. Apabila tuntutan untuk melakukan bersifat jâzim maka disebut îjâb. Dan apabila tuntutannya bersifat ghairu jâzim disebut nadb. Begitu juga, apabila tuntutan untuk meninggalkan bersifat jâzim  maka disebut tahrîm dan apabila bersifat ghairu jâzim disebut karâhah. Selanjutnya yang dimaksud dengan takhyîr bahwasanya syâri’ membolehkan mukalaf untuk melakukan atau tidak melakukannya. Misalnya makan di waktu tertentu, tidur di waktu tertentu atau aktivitas-aktivitas lainnya. [2] Dan yang dimaksud dengan wadh’ yaitu menjadikan sesuatu sebagai sabab untuk sesuatu yang lain atau syarth untuk sesuatu yang lain atau mâni’ untuk sesuatu yang lain. Penjelasan sebagai berikut, bahwasanya Allah mengaitkan antara dua perkara yang berhubungan dengan perbuatan mukalaf. Seperti, Allah mengaitkan antara warisan dengan kematian seseorang. Jadi kematian seseorang merupakan sabab untuk mendapatkan warisan. Begitu juga wudhu merupakan syarth untuk melakukan shalat. [3]

(more…)

Bidadari Kecil Di Balik Jeruji Penjara Suci

Sungguh merupakan nikmat yang besar bisa menuntut ilmu di Negeri Seribu Menara. Ada dua metode dalam belajar di Al-Azhar. Metode kuliah pada umumnya dan metode talaqqi (menghadiri majelis ilmu dengan salah satu syeikh) di Masjid Al-Azhar. Dalam sehari kira-kira ada sekitar tiga maddah (mapel) yang akan diisi oleh duktur (dosen) yang super sekali ilmunya. Sayang kalo dilewatkan begitu saja dengan membolos kuliah. Karena bukan termasuk hal yanganeh lagi, sebagian mahasiswa Al-Azhar menghabiskan waktunya dengan hal yang kurang bermanfaat. Ga semua looh yaa, sebagian mahasiswa lainnya mempunyai motif lain meninggalkan kuliah. Diantaranya 20141207_153410mengikuti talaqqi di Masjid Al-Azhar atapun di madyafah (suatu tempat khusus untuk menimba ilmu). Karena absensi mahasiswa di bangku kuliah tidak dipermasalahkan oleh pihak universitas, mahasiswa mempunyai kewenangan penuh untuk mengikuti kuliah atau sebaliknya. Itulah perbedaan universitas di sini dengan di Indonesia :D. Solusinya kembali ke niat awal. Apakah tujuan jauh-jauh ke Mesir ?? Apakah untuk rekreasi atau menimba ilmu. Karena kita yang menuntut ilmu di sini, mau ga mau ketika sampai ke tanah air akan dihadapkan oleh permasalahan yang begitu kompleks dan harus dipersiapkan ilmunya dari sekarang. Ya sekali waktu, rekreasi boleh-boleh aja. Karena otak kita juga perlu istirahat. Lha wong  komputer saja perlu istirhat masa’ kita engga, ya tho ?? Itulah pentingnya proporsional dalam mengatur waktu. (more…)