Perbincangan yang Tak Terduga


Pekan ini kegiatan belajar sudah mulai. Talaqqi (baca : mengaji) bersama syaikh di madyafah (baca : tempat belajar) salah satu kegiatan yang saya ikuti setiap harinya. Kegiatan talaqqi sempat terhenti selama kurang lebih 2 bulan. 1 bulan untuk persiapan ujian akhir semester, 1 bulan lagi untuk fokus ujian dan ibadah puasa. Tahun ini merupakan tahun yang menurut saya berbeda dan istimewa bagi saya. Pasalnya ujian semester kali ini bertepatan dengan bulan Romadhon. Ditambah lagi, cuaca saat bulan Romadhon memang kurang bersahabat. Suhunya bisa mencapai 40 derajat celcius. Apalagi menahan dahaga dan lapar selama 16 jam. Puasa di negara Timur Tengah menuntut kita agar selalu sabar. Kita tentu membayangkan, bagaimana para sahabat dahulu kala menjalankan ibadah puasa dengan cuaca seperti itu. Saat itu belum ada AC, kipas angin atau alat pendingin ruangan lainnya. Bahkan perang di zaman nabi pernah bertepatan dengan bulan Romadhon. Oleh karena itu, jangan heran kalau masjid-masjid di sini terdapat banyak kipas angin yang terjuntai di atap atau dinding masjid. Diantaranya juga dilengkapi dengan AC. Jadi kalo pas di rumah lagi kepanasan, istirahat di masjid bisa jadi opsi yg pas untuk mendinginkan suhu tubuh.

‌Jadi ujiannya berlipat-lipat. Ujian otak, ujian perut, ujian cuaca. Semua jadi satu. Okey, kembali ke poin utama. Jadi hari ini ada jadwal talaqqi bersama Syeikh Fathi Hijazy, salah satu anggota ulama senior Al-Azhar yang mengampu di devisi bahasa. Kurang lebih sudah 3

tahun lamanya  saya bermulazamah (mengiringi) dengan beliau. Dalam bertutur kata, beliau sangat lembuh sekali dalam menyampaikan sesuatu. Setiap kata yang terucap, mengandung banyak hikmah. Senyuman tak pernah lepas dari wajah beliau. Sekalipun beliau tidak pernah menyinggung kekurangan orang lain. Beliau tidak mengatakan sesuatu kecuali itu hanya kebaikan, nasihat, moral dan akhlak. Ini merupakan poin yang  yang membuat saya betah bermuamalah dengan beliau. Dan dalam kurun waktu itu, kitab yang kita kaji belum usai juga. Sudah 2/3 bagian kitab, berhasil kita pelajari. Entah butuh berapa hari, bulan, bahkan tahun lagi, sampai kita menamatkan kitab ini. Yang jelas, selama beliau masih mengajar, di situ juga saya akan mendampingi beliau.

Kitab ini berjudul Syarah Sudzuru adz Dzahab fii Ma’rifati al Kalam al ‘Arab karya Ibnu Hisyam. Ulama nahwu besar di zamannya hingga terkenal sampai sekarang. Kitab beliau merupakan kitab referensi kalau kita belajar nahwu (grammar). Pembahasan di kitab ini sudah lumayan mendalam. Jadi sebisa mungkin sudah belajar kitab Jurumiyah untuk pemula sebelum belajar kitab Syuduru adz Dzahab . Ibarat kalau kita mau belajar membaca Al-Qur’an, sebelumnya kita sudah belajar Iqra. Ini akan memudahkan kita untuk belajar ke fase berikutnya.
==================================

Suhu cuaca hari ini (11/7) mencapai 38-40 derajat Celsius. Cukup membuat baju saya sedikit basah. Burung pun mungkin tidak punya keinginan untuk terbang dan memilih istirahat di sarangnya. Setelah sampai di tempat Talaqqi, saya menghela napas. Akhirnya bisa duduk nikmat di bawah AC. Talaqqi dimulai ba’da dzhuhur. Talaqqi dihadiri oleh berbagai pelajar Al Azhar atau umum. Kuantitas terbanyak dipegang oleh pelajar Malaysia. Pelajar Indonesia serta Thailand menduduki peringkat 2 dan 3. Pelajar dari negara lain seperti Nigeria, Negara ‘tan’ (Tajikistan, Kyrgyzstan), Mesir,  tidak sebanyak pelajar Malaysia, Indonesia ataupun Thailand.

‌Pelajaran kali ini membahas tentang bab Tamyiz. Belajar nahwu memang tidak pernah ada habisnya. Tiap kita membaca kitab, ada aja ilmu yang masuk. Maka dari itu, ilmu semakin lama kita cari, semakin banyak pula hal yang didapat. Dan ga pernah habis. Tepat jam 2 siang, pelajaran usai. Biasanya saya akan langsung pergi ke Masjid Muadz yang lokasinya tak jauh dari madyafah. Saya menghabiskan berbagai aktivitas di masjid ini. Mulai dari baca buku, istirahat, menikmati sejuknya kipas angin, hingga baca berita via HP.  Aku melangkahkan kaki memasuki masjid. Setelah meletakkan sandal yang sudah mulai terkikis bagian bawah akibat sering dibuat lari-lari, aku berniat menuju shaf pertama guna merebahkan tubuh. Langkahku terhenti ketika seseorang di pojok masjid melambaikan tangan ke arahku. Orang Mesir rupanya. Dia sedang memegang mushaf. Mungkin sedang murajaah (mengulang) hafalannya. Jasnya diletakkan di samping dia duduk. Di sampingnya terdapat kursi panjang. Rupanya dia meletakkan sepasang sepatunya di bawah kursi. Maklum kasus pencurian sandal di masjid sudah menjadi hal yang biasa. Saya pun juga pernah menjadi korban maling. Apalagi bukan sepatu saya pula. Bikin mangkel (jengkel) juga sebenarnya.

“Kamu kemarin ikut daurah (sejenis seminar atau pelatihan) bahasa di Nasr City ya?” dia membuka percakapan. *Nasr City atau Madinah Nasr merupakan salah satu kota di Cairo. Di sini banyak pelajar Asia tinggal.

“Mmm engga syeikh,” aku menimpali. *Kata syeikh juga bisa ditujukan kepada semua orang yang baru kita temui, untuk menunjukkan sapaan hormat*.

“Barangkali anda melihat kembaran saya saat daurah kemarin.” Kita tertawa. Suasana menjadi cair.

Beliau mulai perbincangan dengan pengalaman beliau belajar di Mesir. Bagaimana dia menyelesaikan studi sarjana dan magister. Saya sedikit terperanjat ketika bilang bahwasanya dia adalah dosen di Al-Azhar. Beliau salah satu dosen yang mengajar subject di Fakultas Dakwah dan Tarbiyah. Setelah itu saya memanggil beliau dengan kata duktur (pak dosen). Beliau juga mengatakan kepada saya, bahwa beliau ingin sekali masuk di kuliah lughah (bahasa) saat masih menjadi mahasiswa. Beliau menegaskan bahwasanya bahasa arab sangat penting dan mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam, karena Al Qur’an diturunkan berbahasa arab. Sholat juga tidak sah kalau bukan dengan lafal arab. Bahasa arab juga merupakan cendela dunia. Kita bisa pergi ke UEA, Saudi atau Negara Teluk untuk menjadi tenaga pengajar, berbisnis atau aktivitas lainnya. Saya hanya mengangguk-angguk selama beliau berkata. Poin-poin yang beliau sampaikan saya catat di kepala.

“Kamu di Fakultas dan jurusan apa?”

“Fakultas Syariah wal Qanun, jurusan Syariah Islamiyyah (Islamic Law), duktur.”

“Kenapa para pelajar Asia seperti Malaysia, Indonesia, Thailand kebanyakan mereka memilih jurusan Syariah Islamiyyah. Padahal jurusan bahasa di Al Azhar itu bagus daripada di universitas lainnya.” Beliau bertanya panjang lebar.

Pertanyaan ini beberapa kali terlontar oleh teman-teman mesir saya. Dan jawan saya pun sama. Barangkali dulu saat sebelum pergi ke Al Azhar sudah dinasihati oleh kakak kelas agar masuk jurusan ini. Atau karena ikut-ikutan senior, karena banyak senior yang masuk jurusan ini. Atau bisa jadi pilihan sendiri.

“Tahun berapa kamu di sini?”

” Alhamdulillah, tahun akhir duktur.” Saya membatin, setelah pertanyaan itu pasti ditanya sudah nikah atau belum.

Kalau kata Sadana Agung, salah satu peserta Suci 6, ini termasuk daftar pertanyaan default. Haha.
Saya jawab……. (to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s