Liburan?? Enaknya Menyelam di International Book Fair

Alhamdulillah ujian term satu di bangku perkuliahan sudah usai. Berkutat dengan muqarrar (diktat kuliah) selama kurang lebih sebulan setengah. Otak ini dipaksa untuk selalu bekerja. Tidak ada hari tanpa membawa buku, tidak ada hari tanpa membaca, menghafal dan memahami. Ujian di Al Azhar merupakan momen yang bisa dibilang mendebarkan. Kenapa ? Kita diharuskan membaca, memahami dan menghafal buku setebal 300 halaman. Tentu bukan dengan bahasa Indonesia. Tidak jarang beberapa mahasiswa rasib (gagal) dan mengharuskan mereka mengulang setahun lagi, yang artinya umur mereka di Mesir tambah lama. Padahal mereka yakin jawaban yang mereka tulis sesuai apa yang ada di dalam muqarrar. Sebagian yang lain, menampakkan wajah yang berseri-seri, najah (lulus). Tentunya Allah lah yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya pernah merasakan kegagalan. Menyakitkan. Tapi di titik itulah kita sebenarnya diuji. Apakah kita akan menyerah atau memperjuangkannya. Dan saya juga pernah merasakan keberhasailan. Menyenangkan, Apa yang telah kita rencanakan akhirnya terealisasi.

Akhirnya “penderitaan” ini selesai. Tidak !! Lebih tepatnya berhenti sejenak. Karena kurang tiga bulan lagi ujian term dua sudah di depan mata. Pihak universitas memberikan

waktu libur selama dua minggu. Hiburan setelah bergelut dengan ujian adalah jalan-jalan ke International Book Fair (IBF). Tentunya juga beli kitab (kitab di sini artinya buku). Acara ini mungkin memang sengaja diselenggarakan usai ujian term satu, ketika para mahasiswa menikmati liburan mereka. Inilah yang namanya liburan berkualitas. Liburan tapi juga menambah ilmu. Perhelatan International Book Fair 2017 kali ini adalah kunjungan ke-5 selama saya singgah di Mesir. Acara tahunan ini merupakan momen spesial yang turut dihadari oleh masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) guna menambah koleksi kitabkitab di perpustakaan pribadi mereka. Atau hanya sekadar membaca kitabkitab yang terpampang di setiap maktabah (toko buku) tanpa membeli. Prinsipnya kalau belum bisa membeli kitab, pokoknya baca kemudian dicatat di list barangkali kalau kita sudah punya rezeki, bisa membelinya. Karena acara IBF ini banyak sekali dihadiri penerbit kitab fenomenal baik di dalam Mesir atau di luar Mesir. Sebut saja penerbit kitab dari Saudi. Stand penerbit kitab Saudi merupakan stand yang paling megah dan mewah. Biasanya akan dipampang foto para tokoh berpengaruh serta lukisan pemandangan nuansa arab. Kualitas kertas dan isi kitab terbitan Saudi  tidak perlu diragukan lagi. Jarang sekali ada kecatatan misalnya penulisan huruf, halaman yang hilang dan sebagainya. Tentu harganya juga selangit. Berbeda halnya dengan kitab terbitan Mesir. Harga kitab relatif murah, sesuai dengan kantong mahasiswa.Tentu kalau ada kecatatan di dalam kitab, menjadi sesuatu yang lumrah. Tapi tidak semua penerbit Mesir terdapat kecatatan. Hanya beberapa penerbit saja. Makanya kita diharuskan pintar dan cerdas dalam memilih kitab dan penerbit. Karena di Mesir pun juga banyak terdapat penerbit yang super waw. Sebut saja Darussalam Publisher. Darussalam Publisher merupakan penerbit yang paling digandrungi para mahasiwa Al Azhar, khususnya orang Malaysia dan Indonesia. Mulai dari sampul yang berwarna-warni, memberi nuansa kekinian tanpa mengesampingkan kualitas isi buku dan tahqiq. Kalau orang Mesir bilangnya miyahmiyah (excellent, bagus, keren).

International Book Fair setiap tahunnya berlangung kurang lebih selama 14 hari. Bertempat di District 6th, Nasr City, Cairo. Dekat dengan tempat perkuliahan Al-Azhar cabang Nasr City. Patut diketahui, di kota Kairo, Al Azhar mempunyai dua tempat perkuliahan. Satu berada di daerah Darrasah (dekat dengan masjid Al-Azhar) yang satunya di daerah Nasr City. Saya pernah merasakan kuliah di dua tempat tersebut. Tahun pertama dan kedua, saya belajar di bangku perkuliahan cabang Darrasah. Tahun ketiga, perkuliahan pindah ke cabang Nasr City. Dari segi fasilitas, gedung perkuliahan  cabang Nasr City lebih unggul, karena baru selesai dibangun beberapa tahun terkahir. Mulai dari pintu, kursi, kipas angin, papan tulis, tembok dan sebagainya. Sedangkan nuansa gedung perkuliahan cabang Darrasah terlihat kuno.


*suasana perkuliahan cabang Darrasah

Perhelatan Book Fair ini selalu bertepatan dengan musim dingin. 10-15 derajat. Jaket tebal selalu menyeliputi tubuhku. Kadang saya merangkap dua jaket sekaligus. Merasa iba terhadap kulitku yang selalu merengek kedinginan. Menggigil. Hari pertama belum banyak orang yang datang. Mungkin sebab itu, kita dipersilakan memasuki area Book Fair tanpa membayar tiket. Gratisan. *Bersambung* ……

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s