Aku Hanya Ingin Bersekolah (New)

sekolah-di-pedalaman

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

Lantunan suara Al-Qur’an mendayu-dayu di sela-sela lorong asrama. Tanda adzan subuh sebentar lagi dikumandangkan. Sekumpulan ustadz berselendang sorban siap membangunkan para santrinya yang masih betah dengan selimut dan bantal. Entah “pulau” apa yang telah mereka buat tanpa disadarinya. Dedaunan yang diselimuti tetesan embun, suara ayam berkokok berpadu dengan katak melengkapi suasana pagi itu. Sungguh indah makhluk ciptaan Allah. Waktu sepagi itu mereka tak mau kalah dengan manusia, berdzikir mengingat Tuhannya.

Allahu Akbar .. Allahu Akbar..! Tepat pukul 4.30 pagi sang muadzinmengumandangkan suara “merdu”nya. Ribuan santri bangun dari mimpi indah mereka, tak terkecuali Jepri. Masih dihantui rasa kantuk, Jepri meyeret kedua kakinya menuju kamar mandi. Antrean seperti ular memadati sepanjang lorong kamar mandi. Jepri melihat Joni yang sedang menunggu antrean, lantas mendekatinya.

“Duuhh Jon, kenapa sih harus Pak Darmawan yang adzan. Denger aja suaranya, serak-serak gitu. Kaya ga punya muadzin lain aja pondok kita ini.” Jepri menutup sebelah telinganya.

“Ehh sembarangan aja kalo ngomong, gitu-gitu Pak Darmawan udah 20 tahun loh jadi muadzin tetap.” Joni menimpali.

Wajah Joni sedikit kesal atas ungkapan Jepri. Pak Darmawan merupakan salah satu orang yang mempunyai loyalitas tinggi di Pondok Al-Ishlah, Demak. Suara yang dilontarkannya tak bisa membohongi umurnya yang tua renta. Serak dengan cengkokan yang kurang pas di telinga. Tak sedikit warga pondok yang mengeluh karena hal ini. Tapi keputusan dari  Kyai Sholeh tidak dapat diganggu gugat. Bahwasanya Pak Darmawan akan menjadi muadzin tetap di pondok selama ajal belum menjemputnya. Tubuh beliau disokong dengan tongkat. Karena hanya gaji dari suaranya lah kehidupan bersama keluarganya bisa tercukupi. Maklum Pak Darmawan bersama istrinya rela mengasuh cucu semata wayangnya.

Sholat shubuh baru saja ditunaikan dan diimami oleh Kyai Sholeh. Suara beliau merdu bak burung kenari bersiul. Para santri bergegas meyiapkan setoran hafalan bersama ustadz pengampu masing-masing. Usai setoran hafalan Al-Qur’an, para santri kembali ke asrama, berebut antrean kamar mandi.

“Alamaak, keren sekali rambutmu itu Jep,” sahut teman sekamar Jepri. Minggu ini Jepri memilih ­hair-style ala David Beckham. Jepri memang dikenal teman-temannya sebagai artis pondok dengan beribu macam pilihan style rambut. Aroma canda tawa selalu terhias tatkala Jepri memoles rambut dengan minyak rambut  Gatsby kesayangannya.

“Jep, ayoo berangkat !” Teriak Joni. Teriakannya memecah konsentrasi Jepri, merapikan rambutnya.

“Yoomaa broo ! ” Sambut Jepri. Ia lantas bergegas ke luar kamar.

Matahari mulai tersenyum menyapa santri-santri menuju surga ilmu. Meyelisik celah gang-gang asrama. Jarak yang ditempuh dari asrama menuju madrasah memakan waktu sekitar 10 menit dengan jalan kaki. Canda tawa mereka meramaikan suasana gang. Tarik menarik tas, dorong mendorong, Jepri mulai menarik gesper milik salah satu temannya. “Sreettt.” Celana itu seketika meluncur ke bawah. Tawa para santri pun meledak bak menonton stand up comedy di tengah jalan.

Suasana kelas tidak ada yang berbeda. Kelas yang dihuni 35 santri dihiasi dengan sebuah pot bunga yang terletak di atas meja guru dengan taplak putih bermotif bunga mawar. Di atas whiteboard terdapat sebuah layar monitor. Bercanda dan bercengkrama merupakan salah satu opsi para santri menunggu bel masuk berbunyi.  Seperti biasa, Jepri menata beberapa kursi berjejer meyerupai tempat tidur, membuat singgasana mimpi di pojok kelas.

“Assalamu’alaikum.” Pak Irfan memasuki kelas dan mengucapkan salam.

“Wa’alaikummussalam .”  Jawab para santri sembari menuju tempat duduk masing-masing. Jepri masih tertidur di singgasana mimpinya. Melihat Jepri yang masih terlelap, Joni segera membangunkannya.

Pak Irfan, guru kelas yang mempunyai postur tegap layaknya tentara. Berpakaian kemeja lengan panjang wangi, celana hitam lurus terlihat dari garis lipatannya tercetak jelas. Sepatu hitam mengkilat. Beliau merangkul seorang santri dengan tubuh kecil.

“Insya Allah mulai hari ini Hasan akan menjadi teman baru kalian.” Ucap Pak Irfan dengan senyuman lebar merekah dari wajah beliau.

Hasan memakai kopiah hitam dan mengenakan seragam yang sedikit lusuh. Noda hitam terlihat samar, bekas tinta pena yang mengenai seragamnya. Sepatunya pun tak seperti baru. Warna sepatunya terlihat memudar.

“Silakan duduk Hasan.” Pak Irfan mempersilakannya duduk.

“Terimakasih Pak.” Jawab Hasan.

Hasan mulai mencari posisi tempat duduk yang paling strategis. Hanya tersisa dua kursi yang kosong. Satu kursi berada di bagian pojok kelas. Kursi satunya berada tiga baris di depan meja guru. Lantas Hasan memutuskan untuk memilih kursi yang dekat dengan meja guru agar bisa lebih fokus dalam memahami pelajaran. Hasan sedikit canggung ketika melewati teman barunya. Hasan membenarkan kursi. Menghela napas. Akhirnya dia bisa duduk lega melepas rasa canggungnya. Tas bekas pemberian kakeknya dia letakkan di dalam laci. Tasnya bolong karena resletingnya sudah rusak. Hasan mulai mengeluarkan buku yang sudah hilang sampulnya. Jepri yang duduk bersebelahan dengan Hasan, melirik ke arah meja Hasan.

“Ohh anak orang miskin,” Ucap Jepri dalam hati.

***

Hasan memulai kehidupan baru di sekolahnya. Dia mulai bersosialisasi dengan teman-teman barunya. Walaupun terlahir dengan keadaan yang sederhana, tak memupuskan harapan dalam menuntut ilmu, menggapai cita-citanya. Di kelas, dia termasuk santri yang aktif bertanya dan berdiskusi. Selain itu ia selalu berangkat lebih awal menuju masjid untuk sholat shubuh. Karena kerajinan dan kesholehannya, Hasan mendapat perhatian yang baik dari para ustadz dan teman-temannya. Hal ini membuat Jepri iri dengannya.

***

Allahu Akbar .. Allahu Akbar ..!

Suara adzan mulai berkumandang. Dengan posisi tubuh tengkurap, Jepri perlahan membuka kedua matanya. Jepri terperanjat. Kali ini suara adzan terdengar berbeda. Suara begitu indah, merdu, enak didengar di telinga. Jepri beranjak turun dari singgasana mimpinya bergegas menuju masjid asrama yang berjarak 15 meter dari kamarnya. Jepri mempercepat langkah kakinya. Setelah sampai di halaman masjid, terlihat tubuh kecil memakai kopiah.

“Jangan-jangan anak itu.”

Jepri bergegas menuju pintu masjid. Benar saja, sosok tersebut adalah Hasan. Jepri hanya menunggu hingga adzan usai dikumandangkan.

“ Laa ilaaha illa Allah …” Adzan pun usai.

Hasan menoleh ke belakang. Dari kejauhan, Jepri terlihat berada di pintu masjid.

“Jepri ya !?” Hasan sedikit berteriak melambaikan tangan ke arah Jepri.

“Kok belum memakai pakaian sholat !?.” Tanpa menghiraukan pertanyaan Hasan, Jepri meninggalkan masjid, membisu.

Matahari kembali menyapa santri. Suasana kelas ramai seperti biasa. Penuh dengan celoteh dan canda tawa.

“Tau ga, shubuh tadi anak baru itu adzan coba. Berani-beraninya dia mengganti posisi Pak Darmawan. Mentang-mentang dia pakai kopiah terus seenaknya jadi muadzin gitu !?”

“Loh kamu ga tau ya ? Pak Darmawan malam tadi dilarikan ke rumah sakit. Sakit asma Pak Darmawan kambuh lagi. Kyai Sholeh sendiri yang menunjuk Hasan untuk adzan. Kan dia selalu datang sholat shubuh lebih awal dari kita.” Joni memegang pundak Jepri, mencoba meredam rasa kesalnya.

Bel masuk telah berbunyi. Para santri bergegas masuk ke ruang kelas masing-masing. Jepri melihat Hasan memasuki kelas, menuju tempat duduknya. Karena masih merasa kesal, dia berniat melakukan aksinya. Saat Hasan hendak melewati Jepri, tiba-tiba Jepri menjulurkan kakinya dan mengenai kaki Hasan hingga tersungkur. Karena tasnya bolong, peralatan tulisnya tercecer di lantai.

“Rasain tuh,emang enak.” Ucap Jepri dalam hati.

Pak Irfan memasuki kelas, melihat Hasan jatuh telungkup di lantai. Jepri yang berada di dekatnya sedikit gugup.

“Jepri, kamu membuat onar lagi ya ?” Tanya Pak Irfan.

“Ee eeng enggak pak.” Rasa gugupnya bertambah.

“Jangan bohong sama bapak. Kamu sering berbuat ulah.”

“Beneran pak, saya engga melakukan apa-apa.” Jepri tidak berani menatap muka Pak Irfan. Ia tidak mau mengakuinya.

“Iya pak, Jepri ga berbuat salah. Saya yang kurang berhati-hati pak.” Hasan menyahut. Sembari mengambil alat tulisnya yang berserakan, ia menoleh ke arah Jepri, tersenyum.

 

***

Setelah seminggu Pak Darmawan dirawat di rumah sakit, beliau kembali ke pangkuan Allah. Berita duka kepergian Pak Darmawan menjadi momen  paling sedih yang turut dirasakan seluruh elemen pondok Al-Ishlah. Mereka akan selalu merindukan suara “merdu”nya. Suara yang membuat hati para santri bergetar, lantas mengingat Tuhannya. Hasan salah satu santri yang paling merasa sedih kehilangan sosok Pak Darmawan. Dia yang paling terakhir pulang dari pemakaman.  Setelah ditelisik, Hasan merupakan cucu dari Pak Darmawan. Teman-temannya pun terhenyak mendengar berita ini. Hanya Kyai Sholeh yang tau tentang hal  ini. Teman-temanya pun mencoba menguatkan hati Hasan agar tetap tegar, tidak putus asa dan selalu bersemangat. Setelah Jepri mengetahui berita ini, dia merasa bersalah karena memperlakukan Hasan kurang begitu baik.

Setelah peristiwa duka itu, Hasan semakin giat dalam belajar, menggapai cita-citanya. Walaupun yatim piatu dan kini sudah ditinggal kakeknya, motivasi Hasan dalam mengais ilmu tidak tergoyahkan. Hasan sadar walaupun terlahir dengan keadaan yang sederhana, harus ditopang dengan niat dan usaha yang keras. Pada akhirnya Hasan menjadi siswa teladan di tahun pertamanya berada di pondok.

Dari pintu kelas, Jepri melihat Hasan sedang asyik membaca buku. Jepri mulai mendekatinya, menyapa Hasan dengan senyuman setengah malu.

“Hasan, maafkan atas sikapku yang menolak kehadiranmu sejak awal di pondok ini. Aku sekarang sadar bahwa statusku saat ini tidak berarti apa-apa di mata orang. Hanya niat yang baik dan usaha keraslah yang menjadi perhatian banyak orang.” Jepri tertunduk, tidak berani melihat wajah Hasan.

“Hehe, ga papa Jep.” Hasan mengumbar senyum.

“Sejak datang di pondok ini aku sudah merasa senang hidup di lingkungan seperti ini. Aku hanya ingin bersekolah, menggapai cita-citaku dan meneruskan amanah kakekku.”

“Apa pesan kakekmu yang masih kau tanamkan dalam dirimu ?” Tanya Jepri ingin tahu.

“Bersekolahlah yang rajin. Jadilah orang besar. Ingat bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang, sehingga ia sendirilah yang mengubahnya.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s