Nikmat Syukur (Cerpen)

sujud

Jejeran fanush menghiasi atap-atap kota Madinah Nasr, salah satu distrik di kota Kairo, Mesir. Fanush yaitu lampu hias yang merupakan ikon khas menjelang bulan Ramadhan. Fanush bisa dijumpai di beberapa tempat, misalnya di toko-toko, rumah makan, bengkel, pasar dan di sepanjang jalan raya. Ramadhan kali ini terasa spesial bagi Farid, pemuda dari kampung pelosok di tanah Jawa, merasakan pertama kalinya aura  Ramadhan di negara Seribu Menara.

“Rid, malam ini mau sholat tarawih di masjid mana ?” Ajak Salman dengan penuh semangat.

“Mmm, aku mau nyari masjid yang bacaan Qur’annya satu juz, kira-kira di mana ya Man ?” Farid sembari merapikan kopiah sertasarungnya di depan cermin.

“Ohh, banyak Rid, di Mesir mah kita bisa menjumpai masjid-masjid dengan bacaan satu juz setiap malam. Deket sini ada masjid Baiturrahman. Tempatnya ga jauh kok, paling cuma 10 menit kalau jalan kaki. Ayo aku juga mau kesana.” Salman melempar senyum. Farid pun semakin terlihat berseri-seri.

Mereka berdua pun bergegas menuju panggilan Allah, memandangi puluhan fanush yang berwarna-warni di sepanjang jalan seakan turut memeriahkan bulan yang agung ini. Iqomah pun sudah dikumdangkan. Seketika imam membaca surat Al-Fatihah, hati Farid pun berdegup. Inikah rasanya manisnya iman ? inikah nikmatnya buah syukur ? Farid tak lupa memuji asma Allah, bertasbih, tahmid, takbir. Salah satu kenikmatan besar dalam hidup Farid. Jam menunjukkan pukul 10.30 malam. Tak kurang dari dua jam, sholat tarawih usai dilaksanakan. Puluhan kipas angin terpasang di dinding-dinding masjid karena bulan Ramadhan di Mesir bertepatan dengan musim panas yang mencapai 40 derajat.

“Ayo pulang, udah selesai nih.” Salman menepuk pundak Farid yang sedang berdzikir.

“Duluan aja Man, aku masih mau berduaan dengan Allah. Lagian di sini kan adem hehe. Aku mau tilawah Qur’an juga.” Wajah Farid masih dihiasi senyuman tanda syukur yang mendalam.

“Okelah kalau begitu aku pulang duluan ya, ini kunci rumahnya. Inget kan jalan pulang ?”

“Hehe siap boss,” Farid memperagakan tanda hormat layaknya seorang prajurit yang mendapat mandat dari atasannya.

Jam menunjukkan pukul 02.30 dinihari. Menu sahur kali ini sayur sup yang dipadu dengan oseng tempe buatan khas Salman. Tanpa fikir panjang, mereka pun melahap makanan yang berada diatas meja. Alhamdulillah.

Bukan suatu hal yang aneh, sebagian orang Mesir menjadikan malam mereka untuk beraktivitas dan menjadikan pagi serta siang untuk istirahat. Orang Indonesia kadang menyebut mereka sebagai manusia kelalawar. Anak-anak kecil pun masih terus bermain hingga tengah malam. Usai subuh, Madinah Nasr seakan menjadi kota mati. Lengang, tiada orang.

“Alhamdulillah ya udah seminggu kita berada di bulan Ramadhan. Biasanya di minggu kedua, masjid Baiturrahman ada musa’adah[1] lhoo, mau ikutan ga ?” Ajak Salman sembari merapikan kitab-kitab yang ada di rak.

“Iya Alhamdulillah Man, wah bisa juga tuh. Sekalian mau cari kenalan sama orang Malaysia dan Thailand.”

“Kalau musa’adah mah jarang orang Malaysia, kan mereka kaya-kaya jadi ga pada nyari musa’adah hehe. Oke abis Ashar ya kita capsus. !!”

“Siap boss …” Kali ini Farid semakin bersemangat untuk berburu musa’adah.

Selain musa’adah, Salman dan Farid juga berburu takjil berupa Maidaturrahman. Maidaturrahman merupakan hidangan gratis untuk berbuka puasa yang disajikan untuk orang-orang Mesir serta para wafidin[2]. Menu yang paling sering disajikan adalah daging sapi yang hanya direbus tanpa ada racikan bumbu. Berbeda seperti makanan Indonesia yang kaya akan cita rasa. Dana ini pun bukan dari pemerintah melainkan para dermawan yang berlomba-lomba untuk mencari pahala dengan memberi hidangan kepada orang yang berbuka puasa.

Salah satu hal yang membuat Farid selalu terkagum-kagum adalah lantunan suara Al-Quran yang didapatkan di semua tempat. Di pasar, bengkel, toko-toko, bis, kereta dan masih banyak lagi. Inilah salah satu anugerah Allah dimana firman-Nya selalu dilantunkan di berbagai tempat. Jadi tak heran lagi para penjual pakaian melantunkan Al-Qur’an sembari menunggu para pelanggan, berharap Allah meridhoi dagangan mereka ataupun dengan motif-motif lain.

“Ga terasa ya Man, kurang dari seminggu bulan Ramdhan mau ninggalin kita,” Farid merapikan sajadah bergegas menuju masjid.

“Iya nih Rid, gimana pengalaman Ramadhan di negeri orang ?”

“Alhamdulillah Man, tahun ini aku sudah banyak berubah. Kegiatan ibadah udah aku tingkatin, berharap ini terus berlanjut hingga selepas Ramadhan.”

“Aamiin ya robb, semoga ya Rid. Semoga Allah meridhoi seluruh amalan baik kita,” Salman menepuk kedua pundak Farid. Kedua orang ini menatap masa depan untuk menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya.

Footnote : 

[1] Musa’adah adalah sejenis bantuan berupa uang atau makanan yang dibagikan oleh orang Mesir untuk orang-orang asing seperti Indonesia, Thailand dan sebagainya.

[2] Wafidin adalah orang-orang non Mesir. Seperti orang Indonesia, Malaysia, Rusia dan sebagainya.

=========================================================

Tema :  Pengalaman Menarik di Bulan Ramadhan

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti event “Surga Cinta di Hari Kemenangan” yang diselenggarakan oleh Indis Smart Publisher. Alhamdulillah lolos sebagai kontributor (lagi)  🙂

11873508_1627992810819259_6722070638702079024_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s