Aku Hanya Ingin Bersekolah (Cerpen)

sekolah-di-pedalaman

Suara Al-Qur’an mendayu-dayu di sela-sela lorong asrama. Dengan cukup satu pengeras saja sudah bisa membangunkan ribuan santri yang sedang menikmati mimpi indah. Tanda adzan subuh sebentar lagi dikumandangkan. Sekumpulan ustadz berselendang sorban siap membangunkan para santrinya yang masih betah dengan selimut dan bantal. Entah ‘pulau’ apa yang telah mereka buat tanpa disadarinya. Suara gemericik air yang jatuh dari kran-kran serta seretan ribuan sandal mewarnai suasana di pagi buta.

Allahu Akbar .. Allahu Akbar !!!! Tepat pukul 4 pagi sang muadzin mengumandangkan suara ‘merdu’nya.

“Eh pri, tebak yang adzan siapa ??,” Tanya Joni sambilmembersihkan kotoran yang ada di matanya.

“Mmm kayaknya Pak Darmawan, Jon. Denger aja suaranya, serak-serak gitu. Kaya ga punya muadzin lain aja pondok kita ini.”  Saut Jepri dengan nada ketus yang masih dihantui rasa kantuk.

“Ehh sembarangan aja kalo ngomong, gitu-gitu Pak Darmawan udah 20 tahun loh jadi muadzin tetap.”

Wajah Joni sedikit memerah kesal atas ungkapan Jepri. Bapak Darmawan merupakan salah satu orang yang mempunyai loyalitas tinggi di Pondok Al-Ishlah. Umurnya yang tua renta tak bisa membohongi suara yang dilontarkannya. Serak berpadu dengan cengkokan yang kurang pas di telinga. Tak sedikit warga pondok yang mengeluh karena hal ini, khsusunya para santri yang tiap pagi harus rela mendengar suara ‘indah’ dari Pak Darmawan.

Suasana kelas tidak ada yang istimewa. Kelas yang dihuni 35 santri dilengkapi dengan sebuah pot bunga terletak di atas meja yang berdiameter 2×1 meter dibalut dengan taplak  bermotif batik putih keclokatan. Di atas whiteboard terdapat sebuah LCD diapit dua kipas angin. Memberikan nuansa kelas bak hamparan sawah dengan angin sepoinya. Bercengkarama merupakan salah satu opsi para santri menunggu bel berbunyi.  Sebagian yang lain menata beberapa kursi berjejer, membuat tempat tidur dalam kelas.

“Assalamu’alaikum,” Suara dari ujung pintu kelas membuyarkan ‘aktivitas’ para santri. Sontak semuanya bergegas menuju kursi masing-masing. Itulah Pak Irfan, guru matematika yang mempunyai postur tegap layaknya tentara. Berpakaian kemeja lengan panjang wangi, celana hitam lurus terlihat dari garis lipatannya tercetak jelas. Sepatu hitam mengkilat. Tak seperti biasanya, Pak Irfan memasuki kelas tidak sendirian. Tangan beliau merangkul seseorang dengan tubuh kecil.

“Insya Allah mulai hari ini Hasan akan menjadi teman baru kalian.” Ucap Pak Irfan dengan senyuman lebar yang terpancar dari wajah beliau. Kepala Hasan selalu dihiasi kopiah hitam. Noda hitam terlihat samar, bekas tinta pena yang mengenai seragam satu-satunya. Tas bekas pemberian kakeknya dia letakkan di dalam laci. Jepri mulai melirik.

“Ohh anak orang miskin,” Ucap Jepri dalam hati.

Allahu Akbar .. Allahu Akbar !!! Suara adzan mulai berkumandang. Jepri membuka kedua matanya dengan bantal masih berada diatas wajahnya. Kali ini terdengar berbeda. Suara begitu indah, merdu, enak didengar di telinga. Jepri beranjak turun dari singgasana mimpinya bergegas menuju masjid asrama yang berjarak 20 meter dari kamar. Jepri mempercepat jalan kakinya. Dari kejauhan terlihat tubuh kecil memakai kopiah. Jepri mencoba mengingat ciri-ciri orang tersebut.

“Jangan-jangan anak baru itu.” Raut muka keheranan mulai merasuki wajahnya. Jarak semakin dekat. Benar saja, sosok tersebut adalah Hasan. Seketika itu juga adzan berhenti berkumandang. Hasan menoleh ke belakang lantas menyapa Jepri yang sedang berdiri di ujung pintu masjid.

“Jepri ya ??” Sapa Hasan sambil membenarkan kopiahnya. “Kok belum memakai pakaian sholat ?” Tanpa menghiraukan pertanyaan Hasan, Jepri meninggalkan masjid, membisu.

***

“Tau ga, tadi pagi si anak baru itu adzan coba. Berani-beraninya dia mengganti posisi Pak Darmawan.” Kepalan tangan Jepri membentur meja kelas.

“Loh kamu ga tau ya ? Pak Darmawan tadi pagi dilarikan ke rumah sakit. Sakit asma Pak Darmawan kambuh lagi.” Joni memagang pundak Jepri, mencoba meredam rasa kesalnya.

Satu semester sudah berlalu. Berita duka kepergian Pak Darmawan menjadi momen  paling sedih yang turut dirasakan seluruh elemen pondok Al-Ishlah. Mereka akan selalu merindukan suara ‘merdu’ Pak Darmawan. Suara yang membuat hati para santri bergetar, lantas mengingat Tuhannya. Hasan satu-satunya santri yang merasa kehilangan sosok Pak Darmawan. Setelah ditelisik Hasan merupakan cucu dari Pak Darmawan.

Prestasi Hasan di sekolah barunya terbilang sangat baik. Setelah peristiwa duka itu, Hasan semakin tekun dalam belajar, menggapai cita-citanya. Walaupun yatim piatu dan kini sudah ditinggal kakeknya, motivasi Hasan dalam mengais ilmu tidak tergoyahkan. Hasan sadar walaupun terlahir dengan keadaan yang sederhana, harus ditopang dengan niat dan usaha yang keras.

Di ujung pintu Jepri melihat Hasan sedang asyik membaca Al-Qur’an. Jepri mencoba mendekat, menyapa Hasan dengan senyuman setengah gugup.

“Hasan, maafkan atas sikapku yang seolah menolak kehadiranmu sejak awal di madrasah ini. Ternyata kehadiranmu memberikan cahaya dihatiku. Aku sekarang sadar bahwa statusku saat ini tidak berarti apa-apa dimata orang.” Kepala Jepri tertunduk, tidak berani menatap wajah Hasan.

“Ga papa Jep,” Hasan mengumbar senyum. “Sejak datang di madrasah ini aku sudah merasa senang hidup di lingkungan seperti ini. Aku hanya ingin bersekolah, menggapai cita-citaku, meneruskan semangat juang kakekku.”

“Apa pesan kakekmu yang masih kau tanamkan dihatimu ?” Tanya Jepri ingin tahu.

“Bersekolahlah yang rajin. Jadilah orang besar. Ingat bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu sendirilah yang mau mengubahnya.”

-tamat-

=========================================================

Tema :  Jangan Benci Aku

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti lomba cerpen yang diselenggarakan oleh New Indie Press “TeenliteIslami”. Alhamdulillah lolos sebagai kontributor 🙂

11296506_1428910727428092_1835660856_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s