Month: May 2015

Aku Hanya Ingin Bersekolah (Cerpen)

sekolah-di-pedalaman

Suara Al-Qur’an mendayu-dayu di sela-sela lorong asrama. Dengan cukup satu pengeras saja sudah bisa membangunkan ribuan santri yang sedang menikmati mimpi indah. Tanda adzan subuh sebentar lagi dikumandangkan. Sekumpulan ustadz berselendang sorban siap membangunkan para santrinya yang masih betah dengan selimut dan bantal. Entah ‘pulau’ apa yang telah mereka buat tanpa disadarinya. Suara gemericik air yang jatuh dari kran-kran serta seretan ribuan sandal mewarnai suasana di pagi buta.

Allahu Akbar .. Allahu Akbar !!!! Tepat pukul 4 pagi sang muadzin mengumandangkan suara ‘merdu’nya.

“Eh pri, tebak yang adzan siapa ??,” Tanya Joni sambilmembersihkan kotoran yang ada di matanya.

“Mmm kayaknya Pak Darmawan, Jon. Denger aja suaranya, serak-serak gitu. Kaya ga punya muadzin lain aja pondok kita ini.”  Saut Jepri dengan nada ketus yang masih dihantui rasa kantuk.

“Ehh sembarangan aja kalo ngomong, gitu-gitu Pak Darmawan udah 20 tahun loh jadi muadzin tetap.”

Wajah Joni sedikit memerah kesal atas ungkapan Jepri. Bapak Darmawan merupakan salah satu orang yang mempunyai loyalitas tinggi di Pondok Al-Ishlah. Umurnya yang tua renta tak bisa membohongi suara yang dilontarkannya. Serak berpadu dengan cengkokan yang kurang pas di telinga. Tak sedikit warga pondok yang mengeluh karena hal ini, khsusunya para santri yang tiap pagi harus rela mendengar suara ‘indah’ dari Pak Darmawan.

(more…)