KHAFÎ, MUSYKIL, MUJMAL dan MUTASYÂBIH

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

 

Baca juga makalah lainnya, klik link di bawah :

  1. KHAS
  2. Hukum Taklifi

 

Lafal dari segi ketidakjelasan pada dalalahnya terbagi menjadi empat bagian yaitu : khafî, musykil, mujmal dan mutasyâbih

A. Khafî

  1. Definisi

Wahbah Zuhaili dalam bukunya Ushûl al-Fiqh al-Islamî memaparkan bahwa khafî (الخفي) adalah sesuatu yang maksudnya tersembunyi yang disebabkan oleh faktor lain bukan dari segi shîghah dan tidak dapatdiketahui kecuali dengan sebuah tuntutan atau permintaan.[1] Sedangkan dalam kitab Ushûl al-Fiqh al-Ladzi La Yasa’u al-Faqîh Jahluh didefinisikan bahwa  khafî ialah nama untuk sesuatu yang maknanya serupa dan maksudnya tersembunyi oleh suatu faktor di dalamnya terdapat shîghah yang tidak bisa diperoleh maknanya kecuali dengan tuntutan atau permintaan.[2] Lafal khafî sebenarnya dari segi lafalnya menunjukkan arti yang jelas namun dalam penerapan atau aplikasi artinya terdapat kesamaran.

  1. Contoh

Contoh pada lafal pencuri  (السَّارِقُ)  pada surat al-Mâidah ayat 38 :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Pencuri yaitu orang yang mengambilsuatu harta orang lain secara sembunyi. Tetapi dari segi dalalahnya terhadap orang yang dianggap seorang pencuri itu terdapat sesuatu hal yang tersembunyi. Dengan kata lain, lafal “pencuri” itu mempunyai satuan arti (afrad) yang banyak, yaitu pencopet, perampok, pencuri barang kuburan. Misalnya seorang pencopet yaitu orang yang mengambil harta milik orang lain dengan tangan terbuka dengan skill yang mumpuni dan terampil. Dari segi sifat pencopet dan perampok memiliki sebuah perbedaan karena pencopet memiliki kelebihan sifat daripada pencuri yaitu keberanian serta skill yang mumpuni. Contoh lain yaitu nabâsy (pencuri kain kafan atau barang kuburan). Nabâsy disini termasuk lafal khafî yang memiliki kekurangan dari segi sifat. Karena barang yang dicuri berupa kain kafan yang notabenenya tidak diminati banyak orang.

Jadi para ulama berpendapat bahwasanya perampokan termasuk kategori tindak pencurian disamping adanya kelebihan dalam segi sifatnya. Karena pencuri itu mengambil harta dimana orang sedang dalam keadaan tidur atau secara bersembunyi sedangkan perampok mengambil harta di saat orang sedang terjaga. Jadi hukum perampok berlaku hukum pencurian dalam penerapan hukum potong tangan. Sedangkan nabâsy tidak tergolong hukum pencurian karena sesuatu yang dicuri bukan suatu harta yang bernilai dan tidak diminati banyak orang.

3. Hukum

Hukum khafî yaitu wajib mengetahui makna dari lafal tersebut dengan sebuah pemikiran, perenungan, pemahaman pada faktor-faktor yang menjadi sebab tersembunyinya makna tersebut. Apabila ditemukan bahwa sebab itu karena adanya kelebihan pada sifat seperti yang terjadi pada kasus perampok yang terkait dengan pencurian diatas maka disesuaikan dengan apa yang ditunjukkan zhâhir lafal tersebut. Begitu juga apabila ditemukan bahwa sebab itu karena adanya pengurangan pada sifat seperti yang terjadi pada kasus lafal nabâsy yang terkait pencurian diatas maka tidak disesuaikan dengan zhâhir lafal dan tidak berlaku hukum atasnya.

B. Musykil

  1. Definisi

Yaitu lafal yang maknanya tersembunyi disebabkan oleh lafal itu sendiri dan tidak dapat diketahui kecuali dengan qarînah. Kebalikan dari musykil yaitu nash. Abu Zahrah menambahkan perbedaan antara khafî dan musykil bahwasanya khafî itu sebabnya bukan pada lafal tersebut tetapi pada penerapan atau aplikasi hukum tersebut sedangkan musykil sebabnya pada lafal itu sendiri dan tidak mungkin maknanya diketahui kecuali dengan qarînah yang menunjukkan maksud tersebut.[3]

  1. Contoh

Dan yang termasuk lafal musykil yaitu lafal musytarak yang mempunya dua makna atau lebih tanpa menunjukkan lafal tersebut pada arti tertentu dan tidak dapat diketahui kecuali dengan dalil. Misalnya lafal (أنى)  pada surat al-Baqarah ayat 223 :

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya : “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

Lafal diatas termasuk lafal musytarak yang berarti makna (كيف) . Dan pada surat Maryam ayat 20 :

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

Artinya : “Maryam berkata : Bagaimana mungkin aku memilki seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!.”

Lafal diatas termasuk lafal musytarak yang berarti makna (من أين).

  1. Hukum

Hukum lafal musykil ialah wajib dilakukan dengan pemahaman, pemikiran dan pembahasan terhadap makna pada lafal musykil tersebut kemudian diamalkan sesuai dengan hasil pemahaman tersebut dengan mencari tahu qarînah dan dalalahnya.

 

C. Mujmal

1. Definisi

Lafal yang maknanya tersembunyi dengan lafal yang sama yang tidak dipahami kecuali dari penjelasan mutakallim-nya dan tidak dapat dipahami dengan akal. Lafal ini kebalikan dari mufassar. Terdapat juga definisi yang lain yaitu lafal yang maknanya tersembunyi karena banyaknya makna dan tidak dapat diketahui kecuali dengan penjelasan. [4]

Lafal mujmal ini lebih samar dibandingkan dengan lafal sebelumnya karena dari segi shîghah-nya saja tidak menunjukkan arti yang dimaksud dan tidak ada pula qarînah yang dapat menjelaskan maksud tersebut.

  1. Contoh

Setidaknya ada dua sebab lafal tersebut merupakan lafal mujmal.

a. Lafal-lafal yang asing.

Misal lafal (الهلوع) dalam firman Allah pada surat Al-Ma’ârij

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً (21

Artinya : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (19) Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah (20) dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (21).”

Pada ayat 19 diatas terdapat lafal (الهلوع) yang tidak dapat dipahami karena termasuk lafal asing sehingga Allah menjelaskan dengan ayat selanjutnya.[5]

b. Pemalingan dari makna lughâwî (etimologi) ke makna ishthilâhî (terminologi)

Seperti lafal shalat, zakat, puasa dan lafal lainnya yang Allah palingkan dari makna lughâwî dan digunakan di dalam makna syariat yang tidak diketahui melalui aspek bahasa melainkan dijelaskan lewat hadits-hadits Nabi Muhammad Saw.

  1. Hukum

Hukum mujmal yaitu kita bersikap tawaqquf (diam) dalam menentukan maksud tersebut maka tidak boleh mengamalkannya kecuali jika ada penjelasan dari syâri’. Jika penjelasan tersebut sempurna dan jelas maka lafal hukum mujmal berpindah ke hukum mufassar dan hukumnya berlaku. Seperti lafal shalat, zakat dan haji. Tetapi jika penjelasan tersebut tidak sempurna dan adanya kesamaran maka berpindah ke hukum musykil.

D. Mutasyâbih

  1. Definisi

Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh menjelaskan bahwa mutasyâbih adalah lafal yang maknanya tersembunyi, shîghah-nya tidak menunjukkan makna tersebut dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya karena tidak terdapat qarînah yang menyingkap makna tersebut.[6] Dalam hal ini daya nalar manusia tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menyerahkan dan melimpahkan kepada Allah.

  1. Contoh

Mutasyâbih dapat berupa potongan huruf di awal-awal surat di dalam Al-Qur’an seperti (آلم), (حم), (كهيعص) dan sebagainya. Potongan huruf hijaiyah tidak ditemukan maknanya hanya Allah yang mengetahui makna dari huruf tersebut. Bisa juga berupa sifat-sifat Allah yang menyerupakan dengan ciptaan-Nya. Misal lafal (اليد) pada surat al-Fath ayat 10 :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّـهَ يَدُ اللَّـهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّـهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا 

Artinya : “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”

Abu Zahrah menambahkan bahwa para ulama bersepakat tentang adanya lafal mutasyâbih di dalam Al-Qur’an, seperti tertera pada surat Âli-‘Imrân ayat 7 :

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

Artinya : “Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Qur’an) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamât, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyâbihât.”

Tetapi mereka berbeda pendapat tentang kedudukan. Maka Ibnu Hazm mengatakan bahwa tidak ada lafal mutasyâbih di dalam Al-Qur’an kecuali potongan huruf di awal-awal surat dan qasam (sumpah) Allah di dalam Al-Qur’an. Contohnya asy-Syams :

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ﴿١﴾ وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا ﴿٢﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا ﴿٣﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا ﴿٤

Artinya : “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari (1) dan bulan apabila mengiringinya (2) dan siang apabila menampakkannya (3) dan malam apabila menutupinya (4).”

Dan sebagian ulama mengatakan bahwa kedudukan lafal mutasyâbih mencakup apa yang diutarakan oleh Ibnu Hazm dan mencakup ayat-ayat yang di dalamnya terdapat penyerupaan Allah dengan ciptaan-Nya.

  1. Hukum

Hukum mutasyâbih ada dua metode bagaimana mengetahui hukum mutasyâbih yaitu metode salaf dan metode khalaf.

Metode salaf yaitu metode yang digunakan oleh sebagian umum ulama ahlussunah wal jamâ’ah : larangan untuk mentakwil, menerima apa yang telah menjadi kehendak syâri’, tidak banyak menuntut serta ber-tawaqquf. Dalilnya yaitu pada surat Âli-‘Imrân diatas. Kemudian metode khalaf yaitu metode yang dipakai oleh muktazilah yaitu mentakwil lafal mutasyâbih karena Allah tidak mempunyai tangan, mata dan sebagainya. Secara zhâhir nash terlihat suatu hal yang mustahil maka dilakukanlah sebuah takwil dan memalingkan makna tersebut ke makna yang lain bahkan dengan metode majaz.

Maka maksud dari lafal (اليد) pada surat al-Fath diatas berarti sebuah kemampuan atau kekuasaan.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّـهِ إِلَـٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ 

Artinya : “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Pada surat al-Qashash ayat 88 diatas terdapat lafal (الوجه) yang berati zat (wujud atau hakikat) Allah

E. Mubham dan Ketidakjelasan Pada Dalalah Menurut Jumhur (Mutakallimin)

Ketidakjelasan pada dalalah menurut Hanafiyah ada empat macam yaitu khafî, musykil, mujmal dan mutasyâbih. Sedangkan menurut mayoritas mutakallimin hanya ada satu macam yaitu  mujmal atau mutasyâbih. Maka mujmal salah satu macam dari macam-macam mutasyâbih.

Mujmal sebagaimana didefinisikan oleh al-Amidiy yaitu sesuatu yang memiliki dalalah terhadap salah satu dari dua hal. Dan mutasyâbih ialah lafal yang maknanya tersembunyi baik dari segi shîghah-nya atau dari faktor lainnya. Mujmal menurut mutakallimin mencakup macam-macam khafî yang dipaparkan oleh Hanafiyah.

Mujmal menurut mutakallimin terbagi menjadi tiga macam :

  1. Mujmal diantara beberapa hakikat.

Artinya mujmal diantara beberapa makna misalnya lafal musytarak. Seperti firman Allah Swt. pada al-Baqarah ayat 228

 

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru`.

Menurut kesepakatan para ulama bahwasanya lafal quru` merupakan lafal musytarak, bisa berarti haid ataupun suci. Pernyataan ini serupa dengan apa yang disebutkan di dalam kamus al-Mu’jam al-Wasith.[7] Bahwa lafal quru`  artinya haid atau suci.

  1. Mujmal diantara beberapa satuan arti (afrad) yang tunggal.

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ

Artinya : “Mereka menjawab: mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu.”

Terdapat lafal (البقرة) yang menunjukkan makna tertentu bukan mencakup makna yang lain.

  1. Mujmal diantara beberapa majaz dalam lafal.

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب متفق عليه

Artinya : “Tidak sah shalat bagi yang tidak membaca surat al-Fatihah.”

Hakikat dari lafal ini sebenarnya tentang peniadaan shalat dan hakikat ini bukan maksud dari syariat tersebut melainkan maksud dari majaz yaitu peniadaan kesempurnaan serta kesahihan shalat tersebut.

EPILOG

 

Kesimpulan

 

Hanafiyah membagi lafal dari segi ketidakjelasan pada dalalahnya terbagi menjadi empat bagian yaitu : khafî, musykil, mujmal dan mutasyâbih. Sebab pembagian lafal dari segi ketidakjelasan pada dalalahnya bisa karena lafal itu sendiri atau dari faktor luar. Jika sebab itu karena faktor lain dan bukan karena lafal itu sendiri  maka disebut khafî. Dan jika sebab itu karena lafal itu sendiri dan masih dapat dipahami dengan akal disebut musykil. Tetapi kalau tidak dapat dipahmi dengan akal tetapi bisa dipahami lewat secara naql maka disebut mujmal. Dan apabila dari asalnya tidak dapat dipahmi dengan akal atau secara naql maka disebut mutasyâbih.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

al-Arabiyah, Majma’ al-Lughah, al-Mu’jam al-Wasith (Kairo: Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah, 2011)

As-Sullami, `Iyadl bin Nami, Ushûl al-Fiqh al-Ladzi La Yasa’u al-Faqîh Jahluh (Riyadh: Dar at-Tadmuriyyah, 2005)

Khallaf, Abdul Wahhab, ‘Ilmu Ushûl al-Fiqh (Kairo: Dar al-Hadits, 2003)

Khudhari, Muhammad, Ushûl al-Fiqh (Kairo: Dar al-Hadits, 2003)

Zaidan, Abdul Karim, al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2012)

Zuhaili, Wahbah, Ushûl al-Fiqh al-Islâ, jilid 1 (Damaskus: Dar al-Fikr, 2011)

Zahrah, Muhammad Abu, Ushûl al-Fiqh (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi)

Footnote

[1] Wahbah Zuhaili, Ushûl al-Fîqh al-Islâmî, jilid 1, Dar al-Fîkr, Damaskus, cet. I, 1986, hal. 336

[2] `Iyadl bin Nami as-Sullami, Ushûl al-Fîqh al-Ladzi Lâ Yasa’u al-Faqîh Jahluh, Dar at-Tadmuriyyah, Riyadh, 2005, hal. 403

[3] Muhammad Abu Zahrah, Ushûl al-Fîqh, Dar al-Fîkr al-‘Arabi, Kairo, tc., hal. 121

[4] Muhammad Khudhari, Ushûl al-Fîqh, Dar al-Hadits, Kairo, tc., 2003, hal. 136

[5] Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilmu Ushûl al-Fîqh, Dar al-Hadits, Kairo, tc., 2003, hal. 161

[6] Abdul Karim Zaidan, al-Wajîz fî Ushûl al-Fîqh, Muassasah ar-Risalah Nasyirun, Beirut, cet. I, 2012, hal. 280

[7] Majma’ al-Lughah al-Arabiyah, al-Mu’jam al-Wasith, Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah, Kairo, cet. V, 2011, hal. 748

 

 

 

 

 

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s