KALAH berarti ‘Awal Kebangkitan’

IMG_20150302_164331

Tapi perjuangan kami belum pupus, walaupun pulang dengan hasil seri masih ada harapan pertandingan selanjutnya untuk meraup poin penuh. Hari pun silih berganti menunjukkan pergantian malam dan siang. Sungguh Allah menciptakan alam seisinya dengan segala rahasia yang terpendam. Hanya orang2 yang berilmu lah yang dapat mengetahui maksud dari penciptaan malam dan siang. Semua punggawa beranjak dari tempat duduk mereka, mempersiapkan atribut sepak bola. Sebagian menggerak-gerakkaan kepala,memutar-mutar badan, duduk termenung mengharap poin penuh, ada sebagian mengkonsumsi suplemen berupa pisang dan jeruk dan itu (pasti) saya :D. Udara pun bersahabat di pagi ini hingga tubuh kita merasa nyaman sembari menyongsong kemenangan perdana. Lawan kita yaitu KMB (Banten). Setelah melakukan warming-up (pemanasan) semua skuad berkumpul mendengarkan petuah dari pak manager. Sorotan tajam seluruh punggawa Walisongo menunjukkan tekad untuk meraup hasil maksimal. Doa bersama pun sudah menggema di arena pertandingan. Kepalan  tangan para punggawa sudah terpusat pada satu titik. Saling erat, saling padu, dengan tekad yang menggebu. WALISONGO !! YOO. Para pemain memasuki pos2 mereka. Kiper di dekat gawang dengan ditemani anak gawang yang jobnya ngambilin bola muntah hehe, gitu2 pekerjaan mulia. Siapa coba kalo ga ada yang mau ngambilin bola ?? Itulah tugas mulia mereka. Patut kita apresiasi.Dan kalo bisa nih FIFA membuat penghargaan bagi para anak gawang supaya mereka merasa diperhatikan. Ga cuma pemain aja yang pengen diperhatkan, anak gawang juga perlu hehe. Teng ,, tong …!! Eh salahh. Priiit !!! Peluit pertama tanda pertandingan baru saja dimulai. Seperti biasa kedua kubu saling memperebutkan si kulit bundar. Suara penonton tumpah ruah memadati isi stadion. Tanpa membutuhkan banyak waktu kami pun unggul lewat tendangan penalty setelah tangan lawan mencium si kulit bundar. Setelah itu momentum pun sudah bisa kami dapatkan. Dengan munguasai ball possession Walisongo FC merobek jala lawan dengan skor akhir 4-0. Alhamdulillah akhirnya kemengan sudah teraih. Puji syukur kehadirat Allah pun tak lupa kita sematkan dalam doa. Senyum ceria pun terlihat di  wajah para supporter dan skuad.

****

Lawan kami selanjutnya pun sangat kita nantikan. Pertandingan derby antara Walisongo vs Airlangga (Jatim). Pertandingan antara ‘tetangga’. Harga diri pun dipertaruhkan pada laga big match kali ini. Kick off sudah dimulai. Kedua tim saling beradu taktik serta fisik. Teriakan supporter menambah gairah para pemain untuk mempersembahkan kemenangan untuk klub mereka. Kedua kubu ga ada yang mengalah hingga pada akhirnya harus berbagi poin 1 untuk masing-masing tim. Skor kacamata tidak berubah hingga turun minum di paruh kedua. Pokokke .. disyukuri saja.

****

Pertandingan selanjutnya merupakan ajang ‘balas dendam’ menyusul hasil seri yang diraih oleh Walisongo. Fosgama (Madura) akan menjadi sasaran empuk untuk membalas pertandingan sebelumnya. Terbukti tim Walisongo mendominasi laga ini dengan sangat sempurna hingga lesatan satu gol sudah cukup mengakhiri laga ini dengan poin penuh. Semangat tim pun sudah pulih kembali. Kemenangan ini merupakan modal nyaman agar bisa melaju ke babak final. Hingga empat pertandingan sejauh ini pun sy juga belum menginjak lapangan hijau untuk bermain bersama tim. Jam terbang yang sangat sedikit ini  juga dirasakan para pemain yang baru masuk tahun pertama seperti saya. Kita hanya bisa bermain dalam hati serta terus berdoa untuk kemenangan tim. Harapan saya paling tidak di pertandingan terakhir babak kualifikasi besok merupakan debut saya bersama Walisongo .

****

Tibalah saatnya pertandingan terakhir babak kualifikasi Jawa Cup. Kalah-menang pertandingan ini berdampak besar untuk meraih golden tiket ke babak final. Mengingat catatan pertandingan Walisongo tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya dengan torehan 2 kali menang dan 2 kali seri. Tetapi Walisongo merupakan tim dengan pertahanan paling joss menilik tidak adanya bola yang bersarang di jala Walisongo. Pertandingan big match ini mempertemukan The Jak (Jakarta) sang maestro runner-up pada perhelatan Jawa Cup. Sudah berkali-kali tampil di final tetapi belum pernah mendapat gelar juara. Oleh karena itu motivasi mereka mengalahkan Walisongo terbilang cukup besar supaya memuluskan jalan mereka untuk tampil di partai final. Kick off pun dimulai. Laskar Semar Mendem bersorak-sorai mendukung tim kesayangan mereka. Tak peduli panas yang terik serta hembusan angin yang dingin, mereka acuh tak acuh serta tetap bersorak untuk tim Walisongo. Gooool !!! Si kulit bundar akhirnya masuk juga setelah menanti cukup lama gol yang tak kunjung datang. Tapi alangkah terkejutnya, si kulit bundar sedang tidak ‘bersahabat’ dengan tim Walisongo. Yups setelah empat pertandingan beruntun akhirnya gawang Walisongo dapat merasakan sentuhan manis si kulit bundar. Para pemain di bench kubu Walisongo pun tak bisa menyembunyikan mimik wajah tercengang. Kegelisahan pun turut dirasakan para supporter. Tapi waktu masih lama. Ya waktu masih terus berjalan, kita kejar satu gol. Ayoo kita balas. Priit !!! pertandingan kembali dilanjutkan. Gemuruh suara supporter Laskar Semar Mendem semakin gemuruh. Serangan demi serangan dilancarkan kubu Walisongo. Tak diduga, kiper mereka sedang on fire. Dengan sigap dia menangkap tendangan demi teadangan yang dilesakkan para punggawa Walisongo. Waktu terus berlalu. Karena terlalu asyik menyerang, celah yang terbuka dimanfaatkan kubu lawan. Kesempatan ini tak disia-siakan kubu The Jak. Benar saja, tendangan dari luar kotak penalty berhasil membuat si kulit bundar melewati garis putih gawang Walisongo. Gol ini sebenernya agak sedikit kontroversi. Sempat ada sedikit ‘musyawarah’ antara wasit utama dengan hakim garis. Tanpa diduga wasit utama mengesahkan gol kedua. Tak sedikit para punggawa Walisongo protes terhadap keputusan ini. Gol kedua ini merupakan pukulan bagi Walisongo. Selisih dua gol seakan memberikan harapan palsu bagi Walisongo untuk mendapatkan golden tiket ke final. Sang manager pun memutar otak. “Aziz … !!, kesini.” Akhirnya momentum yang saya nantikan tiba juga. 10 menit terakhir ini pak manager akan memainkan strategi menyerang total. Akhirnya saya dipasang sebagai striker (penyerang) untuk menambah daya gedor serangan yang buntu. Doa-doa tak lupa saya panjatkan. Tarikan napas yang dalam membantu menguatkan mental sebelum bertanding. Bola kembali bergulir. Di penghujung terakhir ini semangat Walisongo semakin menguat, berjuang sampai akhir. Priiiiit. Peluit panjang sudah terdengar. Tepuk tangan meriah dari supporter The Jak seakan menyelimuti seluruh stadion. Saat itu juga The Jak kembali merasakan perebutan mahkota juara, sedangkan Walisongo untuk pertama kalinya dalam sejarah Jawa Cup tersingkir di babak final. Teriakan supporter Laskar Semar Mendem malah semakin menggebu-gebu. Sebagai tanda ucapan terima kasih pada seluruh punggawa Walisongo yang telah berjuang hingga peluit panjang berakhir. Saya hanya bisa senyum kecut sembari menggigit kaos melihat papan skor. Salam-salaman menjadi ajang terakhir antara kedua tim untuk menunjukkan permainan fair-play. Ya, Allah mempunyai rencana lain. Mungkin ini sebagai pelajaran berharga bagi seluruh warga KSW khusunya tim Walisongo bahwasanya juara itu tidak akan selamanya milik kita. Suatu saat kita akan kalah dan langkah yang harus kita ambil yaitu belajar dari kekalahan agar di masa mendatang kita tidak mengulangi kesalahan yang serupa. Ya inilah akhir perjalanan saya bersama tim Walisongo. Semoga tahun depan saya bisa naik di atas podium dengan mengangkat piala bertuliskan “WINNER” Aamiin. (End)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s