Makalah Ushul Fiqih : KHAS

Oleh : Aziz Nur Ikhsan

 

 

==== Baca juga tentang KHAFÎ, MUSYKIL, MUJMAL DAN MUTASYÂBIH ====

 Klik link di bawah :

https://repenttoallah.wordpress.com/2015/03/26/khafi-musykil-mujmal-dan-mutasyabih/

 

 

PENDAHULUAN

Ushul fikih merupakan ilmu yang sangat urgen dalam istinbâth hukum islam. Ada beberapa metode dalam istinbâth hukum dan kaidah-kaidahnya untuk memahami sumber pokok dasar islam yaitu al-Qur’an dan hadits. Salah satu metode istinbâth tersebut dapat ditilik dari segi bahasanya. Menurut ushulliyûn dari segi makna terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama tentang peletakan suatu lafal pada suatu makna. Bagian kedua tentang penggunaan lafal pada suatu makna. Bagian ketiga tentang dalâlah lafal terhadap suatu makna. Bagian keempat tentang tata cara dalâlah lafal pada suatu makna. Pada kesempatan kali ini pemakalah akanmenguraikan bab pada bagian yang pertama yaitu tentang peletakan suatu lafal pada suatu makna. Berdasarkan peletakan suatu lafal pada suatu makna terbagi menjadi dua yaitu ‘âm dan khas.

Oleh karena itu melalui makalah yang singkat ini akan dipaparkan pembahasan khâsh dalam istinbâth hukum Islam sebagai salah satu aspek ajaran Islam yang akan menjelaskan makna-makna lafal setiap hukum dalam suatu nash

KHÂSH

A. Definisi Khâsh

Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh menjelaskan bahwa khâsh (الخاص) secara etimologi bermakna munfarid (المنفرد) artinya meyendiri, terpisah. Dan secara terminologi berarti lafal yang dari segi bahasanya menunjukkan individu tertentu secara menyendiri.[1] Sebagian ulama mendefinisikan khâsh (الخاص) dengan beberapa pengertian. Wahbah Zuhaili dalam bukunya Ushûl al-Fiqh al-Islami memaparkan bahawasanya khâsh adalah lafal yang ditetapkan untuk menunjukkan makna perseorangan atau individu secara menyendiri.[2] Dalam hal ini khâsh mempunyai beberapa makna. Khâsh menunjukkan individu tertentu misalnya nama-nama orang, seperti Zaid, Burhan, dan Muhammad. Atau menunjukkan satu macam, seperti laki-laki, perempuan dan kerbau. Dan bisa juga menunjukkan jenis, seperti manusia. Dan khâsh juga berarti sesuatu yang menunjukkan satuan yang terbatas, seperti sembilan, seratus dan seribu. Definisi khâsh yang dijelaskan oleh Wahbah Zuhaili ini serupa dengan apa yang dikemukakan oleh Abdul Wahhab Khallaf dalam kitab ‘Ilmu Ushûl al-Fiqh.[3] Dalam kitab Qurrat al-‘Aini disebutkan bahwa khâsh adalah sesuatu yang tidak mencakup dua hal atau lebih tanpa ada batas, tetapi sesuatu yang mencakup satu hal secara terbatas.[4]

 

B. Hukum Khâsh

Menurut kesepakatan Imam Abu Hanifah dan mazhab yang lainnya, khâsh menunjukkan suatu makna secara qath’i (pasti) bukan bersifat zhanni (prasangka) selama tidak ada dalil yang memalingkannya ke makna yang lain.[5] Dan yang dimaksud qath’i  disini yaitu tidak adanya kemungkinan makna lain yang timbul. Misalnya firman Allah pada surat al-Maidah tentang kafarat yamin:

[6].فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

Artinya: “Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian maka berpuasalah selama tiga hari.”

Kesimpulan yang bisa diambil dari nash di atas menunjukkan wajibnya puasa tiga hari karena lafal tiga termasuk lafal khâsh dan menunjukkan makna secara qath’i (pasti) dan tidak ada kemungkinan untuk bertambah atau berkurang. Contoh lain firman Allah pada surat al-Baqarah tentang perintah shalat dan zakat:

وَأَقِيْمُوْا الصَّلَوةَ وءَاتُوْا الزَّكَوةَ.[7]

Artinya: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”

Shalat dan zakat merupakan suatu perintah dan perintah itu termasuk bagian dari khâsh, maka perintah tersebut bersifat qath’i (pasti). Tetapi jika ada suatu dalil yang memalingkan lafal khâsh dari makna otentiknya maka dalalahnya tidak bersifat qath’i (pasti) dan keadaannya harus sesuai dengan apa yang dituntut oleh dalil. Seperti sabda Rasulullah Saw. dalam nisab zakat kambing. Beliau bersaba:

فِيْ كُلِّ أَرْبَعِيْنَ شَاةً شَاةٌ.

Artinya: “Pada setiap empat puluh kambing, zakatnya seekor kambing.”

Pada hadits di atas disebutkan bahwa nisab zakat empat puluh kambing dengan seekor kambing. Lafal empat puluh ekor kambing dan seekor kambing itu termasuk lafal khâsh karena tidak adanya kemungkinan angkanya bertambah atau berkurang dan bersifat pasti. Ulama Hanafiyah berpendapat adanya qârinah yang memalingkan dari makna aslinya yaitu tentang pensyariatan zakat bukan pada jumlah atau bilangan kambing. Maksud pensyariatan nash disini untuk membantu orang fakir miskin serta memenuhi hajat mereka.[8]

C. Implikasi Khâsh pada Fikih

Khâsh mempunyai otoritas dalam permasalahan fikih, diantaranya sebagai berikut:[9]

  1. Tafsir pada lafal qur`u

Menurut kesepakatan para ulama bahwasanya lafal qur`u merupakan lafal musytarak, bisa berarti haid ataupun bersuci. Pernyataan ini serupa dengan apa yang disebutkan di dalam kamus al-Mu’jam al-Wasith. Bahwa lafal qur`u  artinya haid atau bersuci.[10] Al-Qur’an telah menashkan bahwasanya idah perempuan yang ditalak adalah tiga kali quru`. Firman Allah Swt. pada surat al-Baqarah:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ.[11]

Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru`.”

Ulama Hanafiyah dan Hanabilah mengatakan qur`u artinya haid, karena lafal tsalâtsah (ثلاتة) merupakan lafal khâsh. Jadi secara pasti menunjukkan kewajiban menunggu tiga kali quru` tanpa tambahan atau pengurangan. Tetapi kalau kita memaknai lafal quru` itu bersuci seperti yang dikemukakan oleh Ulama Syafiiyah dan Malikiyah maka waktu penantiannya bisa lebih dari tiga kali quru`. Dan hal ini tidak boleh karena berkontradiksi dengan maksud nash.

  1. Sesuatu yang mewajibkan adanya mahar

Ulama Hanafiyah mengatakan bahwasanya mahar diwajibkan karena akad pernikahan itu sendiri sesuai dengan lafal ba (ب) pada firman Allah pada surat an-Nisâ` yang berbunyi:

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَّا وَرَآءَ ذَالِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوْا بِأَمْوَالِكُمْ.[12]

Artinya: “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu.

Lafal ba (ب) pada ayat diatas adalah lafal khâsh, maka secara (qath’i) pasti menunjukkan bahwasanya ibtighô (permintaan atau tuntutan) yang merupakan akad itu sendiri harus berhubungan dengan harta, karena lafal khâsh menunjukkan sesuatu secara qath’i dan tidak boleh meyelisihinya.

Pada pokok permasalahan lain bahwasanya mufawwidhoh (perempuan yang dizinkan oleh walinya untuk menikah tanpa menyebutkan mahar) apabila suaminya meninggal sebelum berjimak dan sebelum adanya suatu kesepakatan ukuran mahar, maka menurut Ulama Hanafiyah wajib bagi perempuan itu untuk mendapatkan mahar mitsli karena tidak adanya harta pada akad tersebut.

Akan tetapi Ulama Malikiyah berpendapat tidak diwajibkan bagi perempuan tersebut untuk mendapatkan mahar karena mahar tidak wajib dengan adanya akad tetapi mahar diwajibkan sebab adanya jimak atau adanya ucapan (kesepakatan untuk membayar mahar).

  1. Syarat untuk thuma’ninah dalam shalat

Thuma’ninah dalam kitab al-Imtâ’ bi Syarhi Matn Abî Syujâ’ pada bab rukun shalat adalah berdiri tegak dan berhenti dengan bertasbih.[13] Maknanya juga bisa berarti tidak gelisah.[14] Ulama Hanafiyah (kecuali Abu Yusuf) tidak mewajibkan adanya thuma’ninah dalam shalat, sesuai dengan firman Allah Swt. pada surat al-Hajj:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا.[15] 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu dan sujudlah kamu.

Ayat di atas menunjukkan dalalah khâsh. Maka cukup dilakukan dengan rukuk dan sujud dalam pelaksanaan shalat. Abu Yusuf dan Imam Syafii mengatakan thuma’ninah itu wajib dalam shalat karena statusnya menunjukkan khâsh. Pernyataan ini didukung oleh hadits sahih dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya ada Orang Arab shalat di Masjid Nabawi tanpa thuma’ninah lalu Rasulullah Saw. bersabda:

إِرْجعْ فَصَلِّ, فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ.[16]

Artinya: “Kembalilah lalu shalatlah, sesungguhnya kamu belum shalat.”

Pada hadits di atas terdapat penjelasan yang gamblang bahwasanya setiap rukuk, iktidal, dan sujud harus disertai thuma’ninah. Hikmah adanya thuma’ninah agar kita senantiasa mentadaburi setiap lafal, bacaan, dan doa yang terlontar dari mulut kita dan agar selalu ingat atas kekuasaan Allah sebagai salah satu identitas muslim yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.

D. Macam-macam Khâsh

Khâsh mempunyai beberapa macam. Yang paling fundamental ada empat macam, yaitu muthlaq, muqayyad, amr, dan nahyu. Pada pembahasan makalah ini akan dipaparkan dua macam saja, yaitu muthlaq dan muqayyad.

>> Muthlaq (مطلق)

  1. Definisi Muthlaq

Menurut Syeikh Utsaimin muthlaq secara etimologi yaitu antonim dari muqayyad. Kemudian secara terminologi muthlaq adalah sesuatu yang menunjukkan suatu hakikat tanpa adanya limitasi.[17] Seperti firman Allah Swt. pada surat al-Mujâdilah:

فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا.[18]  

Artinya: “Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur.”

Lalu menurut Muhammad Khudhari muthlaq adalah sesuatu yang menunjukkan perseorangan atau kelompok bersama tanpa batas.[19] Lain halnya dengan Wahbah Zuhaili, beliau mendefinisikan muthlaq adalah lafal khâsh yang menunjukkan perseorangan atau beberapa kelompok secara bersama dan tidak terbatas oleh salah satu dari beberapa sifat misalnya seorang laki-laki, beberapa orang laki-laki, sebuah kitab, beberapa kitab, seekor burung, beberapa burung.[20]

Jadi maksud dari pernyataan di atas menunjukkan esensi serta hakikat sesuatu itu sendiri dan lafal muthlaq itu sama seperti lafal nakirah. Dengan definisi yang serupa, Abdul Karim Zaidan menjelaskan bahwasanya muthlaq adalah lafal yang menunjukkan perseorangan atau kelompok yang tidak tertentu tanpa adanya batas.[21]

2. Hukum Muthlaq

Muthlaq berlaku sesuai dengan ke-ithlaq-kannya selama tidak ada dalil yang menunjukkan adanya suatu taqyîd (limitasi). Seperti firman Allah Swt. pada surat al-Mujâdilah:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.[22]

Artinya: “Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur.”

Ayat ini menjelaskan kafarat zhihar bagi suami yang meyerupakan istrinya dengan ibunya dengan memerdekakan budak. Kata raqabah (budak) disini merupakan lafal muthlaq karena tidak adanya sesuatu atau sifat yang membatasi kata tersebut. Jadi membebaskan budak di sini bisa meliputi budak mukmin atau kafir.[23] Tetapi jika ada dalil yang yang men-taqd pernyataan muthlaq maka yang diamalkan adalah dalil taqd tersebut. Seperti firman Allah Swt.:

مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصى بِهَا أَوْ دَيْنٍ.[24]

Artinya: “Sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya.”

Kata wasiat di atas merupakan lafal muthlaq karena tidak adanya taqd pada ayat di atas dengan ukuran tertentu maka boleh memberikan wasiat dengan ukuran tanpa batasan. Tetapi ada dalil yang men-taqd dengan sepertiga bagian dari wasiat, yaitu hadits masyhur dari Sa’ad bin Abi Waqqash ketika Rasulullah Saw. melarang untuk memberikan wasiat di atas sepertiga.

>> Muqayyad (مقيد)

1. Definisi Muqayyad

Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya Ushûl al-Fiqh menjelaskan bahwasanya muqayyad adalah apa-apa yang menunjukkan suatu esensi yang dibatasi dengan sifat, keadaan, ghoyah, dan syarat.[25]

Contoh yang di-taqyîd dengan sifat:

فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ.[26]

Artinya: “Maka (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.”

Contoh yang di-taqyîd dengan syarat, tentang kafarat sumpah:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ.[27]

Artinya: “Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari.”

Puasa selama tiga hari di atas dibatasi apabila tidak bias memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.

Contoh yang di-taqyîd dengan ghoyah (tujuan):

ثُمَ أَتِمُّوْا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ.[28]

Artinya: Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”

Puasa di atas dibatasi oleh ghoyah (tujuan), yaitu waktu malam. Maka tidak boleh puasa wishôl.

Contoh taqyîd dengan ghoyah (tujuan) menurut Syinqithi:[29]

وَلا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ.[30]

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka bersuci.”

Menurut Wahbah Zuhaili muqayyad adalah lafal khâsh yang menunjukkan perseorangan secara bersama yang dibatasi dengan salah satu dari beberapa sifat.[31] Dengan ungkapan lain, lafal yang menunjukkan sesuatu tertentu. Misalnya pemuda mukmin, beberapa pemuda mukmin, wanita yang lembut, wanita-wanita yang lembut. Sedangkan menurut Abdul Karim Zaidan muqayyad adalah lafal yang menunjukkan suatu satuan dalam satu jenis yang dibatasi dengan beberapa sifat.[32]

2. Hukum Muqayyad

Hukum muqayyad wajib diamalkan sesuai dengan apa yang telah di-taqyîd, selama tidak ada dalil yang menghapus atau membatalkan taqyîd tersebut. Misalnya hukum tentang kafarat zhihar, Allah Swt. berfirman:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا.[33]

Artinya: “Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur.”

Perintah puasa diatas di-taqyîd dengan syarat dilakukan secara berturut-turut dan dilakukan sebelum suami istri itu kembali berhubungan.[34] Seperti halnya pada kafarat pembunuhan khotho` (yang salah). Allah berfirman:

فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ.[35]

Artinya: “Maka (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.”

Maka konklusinya tidak boleh memerdekakan seorang hamba sahaya kecuali dia orang yang beriman.

E. Hamlu al-Muthlaq ‘ala al-Muqayyad dan Jenis-jenisnya

Yang perlu kita ketahui bahwasanya dalam Mazhab jumhur lafal berkutat pada tiga marhalah (tingkatan). Marhalatu al-wadh’i, marhalatu al-isti’mal, dan marhalatu al-haml.  Pada permasalahan hamlu al-muthlaq ‘ala al-muqayyad, kita berada pada marhalatu al-haml. Hamlu al-Muthlaq ‘ala al-Muqayyad terdapat dua jenis atau keadaan, yaitu sebagai berikut:

  1. Apabila muthlaq dan muqayyad berada dalam satu sebab hukum.

Ada perbedaan pendapat dari para ulama ushul fikih. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwasanya muthlaq tidak berlaku terhadap hukum muqayyad, tetapi hukum tersebut berlaku secara sendiri-sendiri. Jumhur ulama berpendapat selain Ulama Hanafiyah berpendapat bahwasanya muthlaq berlaku pada hukum muqayyad. Misalnya hadits dari Ibnu Umar:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ زَكَاةَ الفِطْرِ مِنْ رَمَضَان صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِ وَالذَّكرِ ولأنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. وفي رواية أخرى لم يذكر فيها (من المسلمين)

Jadi di dalam dua nash tersebut terdapat satu hukum, yaitu wajibnya membayar zakat fitrah. Tetapi terdapat lafal muthlaq dan muqayyad pada sebab hukum tersebut yaitu orang yang ditanggung untuk membayar zakat fitrah, karena nash yang pertama menyatakan adanya taqyîd (batasan) dengan syarat yang ditanggung untuk membayar orang zakat fitrah itu beriman, sedangkan nash yang kedua berlaku hukum muthlaq. Maka pada permasalahan ini Ulama Hanafiyah berpendapat muthlaq disini tidak berlaku terhadap hukum muqayyad. Jadi kedua hukum tersebut (muthlaq dan muqayyad) berjalan pada hukum yang semestinya. Maka seseorang tersebut diwajibkan membayar zakat fitrah baik orang yang ditanggung tersebut beriman atau orang yang kafir karena hukum muqayyad pada nash yang pertama tidak berlaku terhadap nash yang kedua.

Pendapat dari jumhur ulama bahwasanya muthlaq berlaku pada hukum muqayyad. Konklusi yang dapat diambil maka tidak diwajibkan seseorang membayar zakat fitrah kecuali orang yang ditanggung tersebut muslim.

  1. Apabila muthlaq dan muqayyad berada dalam satu hukum

Ada empat shûrah (gambaran) pada keadaan ini, yaitu sebagai berikut:

  • Apabila muthlaq dan muqayyad berada dalam satu hukum dan sebab

Hukumnya yaitu muthlaq berlaku pada hukum muqayyad menurut kesepakatan ulama. Maka tidak benar jika adanya perselisihan antara muthlaq dan muqayyad ketika berada dalam satu hukum dan sebab. Contohnya pada firman Allah Swt. tentang masalah tayamum:

فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ.[36]

ِArtinya: “Maka usaplah mukamu dan tanganmu.”

فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ.[37]

ِArtinya: “Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), usaplah mukamu dan tanganmu.”

Sebab nash pada kedua ayat di atas adalah satu sebab yaitu kehendak untuk melakukan shalat, dan hukum pada ayat di atas juga satu yaitu kewajiban untuk mengusap, maka muthlaq berlaku pada hukum muqayyad. Jadi kewajiban dalam tayamum yaitu mengusap wajah dan kedua tangan dengan (debu) tanah yang tidak najis.

  • Apabila hukum dan sebab berbeda

Firman Allah Swt. pada surat al-Mâidah:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْا أَيْدِيَهُمَا.[38]

Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.”

فَاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ.[39]

Artinya: “Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku.”

Lafal (أيديهما) pada ayat yang pertama merupakan muthlaq, sedangkan lafal (وأيديكم) pada ayat yang kedua adalah muqayyad. Sebab pada kedua ayat di atas berkontradiksi. Ayat yang pertama tentang pencurian dan yang kedua kehendak shalat dan adanya hadas. Begitu juga hukumnya, pada ayat yang pertama tentang potong tangan orang yang mencuri dan ayat yang kedua tentang membasuh tangan pada saat wudhu. Maka berdasarkan adanya ikhtilâf pada hukum dan sebab, muthlaq tidak berlaku terhadap hukum muqayyad sesuai kesepakatan para ulama.

  • Hukumnya berbeda tetapi sebabnya sama

Contohnya firman Allah Swt. tentang perintah wudhu:

فَاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ.[40]

Dan perintah Allah tentang tentang masalah tayamum:

فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ.[41]

Kata tangan pada perintah wudhu di-taqyîd (dibatasi) sampai dengan siku, sedangkan pada perintah tayamum lafalnya muthlaq. Hukum pada dua nash di atas berbeda yaitu tentang membasuh tangan ketika berwudhu dan mengusap tangan saat tayamum. Adapun sebab dua nash di atas adalah sama yaitu adanya hadas dan kehendak untuk melakukan shalat.

Banyak dari ulama bersepakat bahwasanya muthlaq tidak berlaku terhadap hukum muqayyad pada kondisi ini kecuali ada dalil yang menunjukkan berlakunya hukum muthlaq. Maka pada kondisi yang demikian para mujtahid mencari jalan keluar dengan menggunakan sunnah. Kemudian Ulama Syafiiyah dan Hanafiyah mengatakan bahwasanya yang menjadi kewajiban yaitu membasuh kedua tangan sampai siku, sesuai dengan hadits dari Ibnu Umar yang diriwayatkan secara marfu’. Rasulullah Saw bersabda:

التَّيَممُ ضَرْبَتَانِ : ضَرْبَة للْوَجْهِ، وَضَرْبَة للْيَدَيْنِ إِلَى المرْفَقَيْنِ.[42]

Artinya: “Tayamum itu dua kali pukulan yaitu pukulan untuk wajah dan kedua tangan sampai siku.”

Ulama Malikiyah dan Hanabilah mengatakan bahwasanya yang menjadi kewajiban yaitu membasuh kedua telapak tangan saja karena Rasulullah memerintahkan Ammar bin Yasir untuk tayamum dengan mengusap wajah dan kedua telapak tangan. Sesuai dengan hadits di bawah ini:

 ثم تمسح بها وجهك و كفيك إلي الرسغين.[43]

Artinya: “Kemudian usaplah pada wajahmu dan kedua telapak tanganmu sampai pergelangan.”

  • Hukumnya sama tetapi sebabnya berbeda

Contohnya pada kasus kafarat zhihar dan kafarat pembunuhan khotho` (yang salah). Allah Swt. berfirman:

فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا.[44]

Dan firman Allah tentang kafarat pembunuhan khotho`:

فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ.[45]

Lafal (رقبة) pada ayat yang pertama muthlaq, sedangkan pada ayat kedua lafalnya muqayyad dengan adanya syarat bahwa budak tersebut orang yang beriman. Pada kasus ini hukum kedua ayat di atas sama tetapi sebabnya berbeda. Pada ayat pertama dijelaskan sebab adanya kafarat zhihar karena suami istri ingin berhubungan kembali, sedangkan pada ayat yang kedua sebab adanya kafarat karena pembunuhan itu sendiri. Ulama Hanafiyah dan sebagian besar Ulama Malikiyah berpendapat bahwasanya muthlaq tidak berlaku terhadap hukum muqayyad maka diwajibkan dalam kafarat pembunuhan khotho` untuk membebaskan budak yang beriman dan dalam kafarat zhihar diwajibkan untuk membebaskan budak, baik yang beriman atau kafir.

Kesimpulan

Maka konklusi yang dapat kita terima bahwa  khâsh adalah lafal yang ditetapkan untuk menunjukkan makna perseorangan atau individu secara menyendiri. Dan hukum khâsh menunjukkan suatu makna secara qath’i (pasti) bukan bersifat zhanni (prasangka) selama tidak ada dalil yang memalingkannya ke makna yang lain.

Demikian pemaparan makalah singkat ini saya buat. Alhamdulillah atas segala limpahan rahmat-Nya serta dukungan dari rekan-rekan makalah ini selesai, walaupun masih banyak sekali kekurangan di setiap titik tulisan. Harapan penulis semoga pembaca mampu memahami secara global otoritas khâsh dalam istinbâth hukum Islam sebagai salah satu aspek ajaran Islam untuk memahami makna-makna lafal setiap hukum dalam suatu nash. Saran dan kritik yang membangun tentu sangat penulis butuhkan mengingat pembuatan makalah yang jauh dari kata sempurna. Karena kesempurnaan adalah hak prerogatif Allah Swt. Wallâhu a’lam

  • DAFTAR PUSTAKA

[1] Abdul Karim Zaidan, al-Wajîz fî Ushûl al-Fîqh, Muassasah ar-Risalah Nasyirun, Beirut, cet. I, 2012, hal. 222

[2] Wahbah Zuhaili, Ushûl al-Fîqh al-Islami, jilid 1, Dar al-Fîkr, Damaskus, cet. XIX, 2011, hal. 201

[3] Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilmu Ushûl al-Fîqh, Dar al-Hadits, Kairo, tc., 2003, hal. 178

[4] Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdirrahman al-Hathab ar-Ruaini, Qurrat al-‘Aini li Syarhi Waraqât al-Imam al-Haramain, ditahkik oleh Ahmad Musthafa Qasim Thahthawi, Dar al-Fadhilah, Kairo, tc., hal. 75

[5] Wahbah Zuhaili, op. cit., hal. 202

[6] QS. al-Mâidah: 89

[7] QS. al-Baqarah: 43

[8] Abdul Karim Zaidan, op. cit., hal. 223

[9] Wahbah Zuhaili, op. cit., hal. 202-204

[10] Majma’ al-Lughah al-Arabiyah, al-Mu’jam al-Wasith, Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah, Kairo, cet. V, 2011, hal. 748

[11] QS. al-Baqarah: 228

[12] QS. an-Nisâ`: 24

[13] Hisyam Kamil Hamid, al-Imtâ’ bi Syarhi Matn Abî Syujâ’, Dar al-Manar, Kairo, cet. I, 2011, hal. 83

[14] Majma’ al-Lughah al-Arabiyah, op. cit., hal. 587

[15] QS. al-Hajj: 77

[16] HR. Bukhari dan Muslim

[17] Muhammad bin Shalih Utsaimin, al-Ushûl min ‘Ilmi al- Ushûl, Muassasah Zad, Kairo, cet. I, 2012, hal. 33

[18] QS. al-Mujâdilah: 3

[19] Muhammad Khudhari, Ushûl al-Fîqh, Dar al-Hadits, Kairo, tc., 2003, hal. 190

[20] Wahbah Zuhaili, op. cit., hal. 204-205

[21] Abdul Karim Zaidan, op. cit., hal. 225

[22] QS. al-Mujadilah: 3

[23] Abdul Karim Zaidan, op. cit., hal. 225

[24] QS. an-Nisâ`: 12

[25] Muhammad Abu Zahrah, Ushûl al-Fîqh, Dar al-Fîkr al-‘Arabi, Kairo, tc., hal. 157

[26] QS. an-Nisâ`: 92

[27] QS. al-Mâidah: 89

[28] QS. al-Baqarah: 187

[29] Muhammad Amin bin Muhammad Mukhtar Syinqithi, Mudzakaroh fî Ushûl al-Fîqh, Dar al-Hadits, Kairo, tc., 2011, hal. 209

[30] QS. al-Baqarah: 222

[31] Wahbah Zuhaili, op. cit., hal. 206

[32] Abdul Karim Zaidan, op. cit., hal. 225

[33] QS. al-Mujâdilah: 4

[34] Wahbah Zuhaili, op. cit., hal. 206

[35] QS. an-Nisâ`: 92

[36] QS. an-Nisâ`: 43

[37] QS. al-Mâidah: 6

[38] QS. al-Mâidah: 38

[39] QS. al-Mâidah: 6

[40] QS. al-Mâidah: 6

[41] QS. al-Mâidah: 6

[42] HR. Daruquthni, Hakim dan Baihaqi

[43] HR. Tirmidzi dan Daruquthni

[44] QS. al-Mujâdilah: 3

[45] QS. an-Nisâ`: 92

 

 

 

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s